TANAH HUMA


Oleh: HE. Benyamine

Menemukan buku Tanah Huma (Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan) di toko buku yang berada di lokasi TIM Jakarta, bagi Iberamsyah Barbary, merupakan kejutan yang membahagiakan beliau dan sekaligus menjadi bahan pembicaraan beliau tentang buku tersebut di Pojok Seni Mingguraya. Buku Tanah Huma (TH) yang diterbitkan penerbit Pustaka Jaya (Jakarta) pada tahun 1978, dengan nama-nama penyairnya; D. Zauhiddie, Yustan Aziddin, dan Hijaz Yamani, yang pada zamannya hingga sekarang masih dirasakan meriahnya perayaan puisi. Sebagian besar penyair Kalsel selanjutnya terutama generasi yang dekat dengan zamannya, ketiga nama tersebut tetap hidup dan bermakna.

Berdasarkan bebarapa orang yang pernah merasakan zaman di mana proses puisi yang meriah dan bergairah, sebagaimana yang dinyatakan kepada Ali Syamsudin Arsi melalui pesan singkat (sms) berikut:

“Salam. Ketiganya adalah sastrawan Indonesia yang kreatif dan produktif yang kebetulan lahir di bagian timur Indonesia.” (D Rayes)

“Ulun ingat dulu ka fani pernah membahas waktu meninggal pak Darmasyah Zauhiddie.” (Oka S. Miharja)

“Imbah kupikir, aku cuma bisa memandang pa Yustan Aziddin yang dapat dikatakan tokoh, beliau dapat digugu dan ditiru dalam sikap kekaryaan seni dan keseharian, beliau  bisa sebagai orang tua ketika bernasehat, sebagai kawan ketika berkarya, sebagai kritikus ketika supervisi.” (Julak Larau/Mukhlis Maman).

“Ketiganya adalan seniman/budayawan murni yang sealu berdiri di atas segala kepentingan seniman apapun, yang situ menjadi panutan.” (Abdullah Sp).

“Ketiganya kukenal dalam karyanya. D. Zauhiddie pernah satu meja bicara soal sastra, di sini banyak tukar pikiran sampai puisiku lahir “Mandat D. Zauhiddie”. Yustan Aziddin dosen sastra fak publistik. Ketika dialog dengan beliau mengatakan suaraku bariton, langsung menawarkan deklamasi, kerawang bekasi (dia ajari aku) dan berhasil harapan 1 dari 31 peserta 11 kabupaten. Hijaz Yamani yang elalu memotivasi agar terjun sepenuhnya ke sastra, kadang kirim untaian mutiara, dengan dahri oskandar, anang adenansi dkk, sekelumit cerita.” (Hamami Adaby).

“Beliau-beliau itu senantiasa menulis karya yang bersifat monumental, yakni yang dapat dipahami dan diingat orang karena itu memperlihatkan ketokohan penulisnya. Ini memang sangat umum sekali, paling tidak yang dapat aku ketahui dan ingat seperti itu berdasarkan dari karya beliau. Makasih.” (Syarifudin AR).

“Ketiga tokoh tersebut menjadi pembuka pintu bergairahnya perkembangan puisi modern di Kalimantan (khusus Kalsel), menjadi tonggak berbiaknya sastrawan berikutnya.” (Eko Suryadi WS).

“Trio sastrawan cerdas yang tidak selalu memberontak terhadap kemapanan, motivator pendobrak bangkit dan dikenalnya Kalsel dalam kancah sastra nasional dengan selalu memberi warna kedaerahan, adat budaya dan kearifan lokal masyarakat Kalsel dalam karya-karyanya.” (Bram Lesmana)

“Ketiga tokoh tersebut adalah seniman Kalsel yang kita banggakan karena sepanjang hayatnya konsekwen dan konsisten di dunia sastra dan hendaknya menjadi panutan bagi seniman-seniman muda Kalsel untuk terus berkarya dan berkreativitas mengangkat citra banua.” (Syarkian).

“Ya, terima kasih atas apresiasi yang tinggi oleh kawan-kawan sastrawan di Banjarbaru terhadap karya 3 sastrawan (alm.) tersebut. Sebagai pioner kepenyairan dan perpuisian Indonesia modern memang sudah selayaknya kita kenang dan hargai peran penting Chairil, tapi kita pun patut hargai peran dan jasa besar para almarhum sastrawan banua.

Ketika antologi “Tanah Huma” diterbitkan Pustaka Jaya (cetakan pertama, 1978), berdasarkan dokumentsi yang ada padaku banyak mendapat respon/dibicarakan di media cetak nasional dan lokal. Tapi setahuku sejak cetakan pertama hingga beberapa kali penerbitannya belum pernah ada acara launching khusus buku puisi 3 penyair banua tersebut.” (Micky Hidayat).

Ungkapan-ungkapan di atas tentu tidak lepas dari pengalaman subyektivitis mereka, namun lebih dari itu, peran ketiga penyair tersebut dalam perkembangan perpuisian modern di Kalimantan (Kalsel khususnya) tidak dapat dipungkiri dan terlupakan. Ketiganya berperan aktif dan proaktif dalam menggairahkan perpuisian.

Menurut Ali Syamsuddin Arsi, “Untuk tokoh sastra asal kalsel pada eranya, Darmansyah Zauhidhie, adalah inspirasi yang sangat menggairahkan dalam kiprah beliau terutama di hulu sungai selatan, selain penulis puisi, penulis cerpen, naskah drama juga pelaku atau dramawan, data tentang beliau akan masih lebih banyak lagi (semoga), dan bila kita buka buku La Ventre de Kandangan (editor: Burhanuddin Soebely) maka akan semakin memperkaya informasi ini. Ia pun masuk dalam Tanah Huma dan ada pula di dalam buku Tonggak jilid 2, Tonggak merupakan buku kumpulan puisi yang berjumlah 4 jilid yang menghimpun karya-karya para sastrawan seluruh Indonesia dan merupakan buku penting sebagai salah satu referensi di mana-mana.”

Peran ketiga penyair tersebut dapat dirasakan dari tindakan, sikap, dan karya mereka dalam menggairahkan sastra di Kalimantan Selatan, seperti terbukanya ruang “Dahaga” di koran Banjarmasin Post dan juga terjangkaunya ruang cipta dan apresiasi puisi yang ditayangkan dalam acara “Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (UMSIS)” di RRI Nusantara III Banjarmasin. UMSIS merupakan siaran yang cukup lama dalam kontinuitas dalam mengudarakan puisi menjangkau pendengarnya.

Keberadaan ketiga penyair yang terhimpun dalam Tanah Huma, tentu saja begitu melekat bagi generasi yang berhadapan langsung, sehingga karya mereka menjadi kebanggaan bagi Kalsel, sebagaimana puisi Kandangan Kotaku Manis (D. Zauhiddie) yang tertulis di ruang publik kota Kandangan saat ini. Buku Tanah Huma termasuk dalam buku Tonggak dengan editor Linus Suryadi AG.

Memperhatikan keterlibatan ketiga penyair dalam Tanah Huma ini di Kalimantan Selatan khususnya,  ada beberapa hal yang patut dikonfirmasi kembali dan ditegaskan sebagai penghargaan kepada ketiga penyair tersebut, karena kita yang terhutang kepada penyair sebagaimana sering diungkapkan Radius AR.

Pertama, ketiga penyair tersebut layak dijadikan patukan kebangkitan puisi modern di Kalimantan (khususnya Kalsel), karena melalui peran mereka menjadi semaraknya puisi. Sehingga menjadi pantas untuk diperingati sebagai hari kebangkitan nasional skala lokal pada setiap tanggal 20  Mei.

Kedua, ketiga penyair tersebut telah begitu berperan dalam pendidikan, dengan semangat ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI” (Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan) yang menjadi slogan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei, dan sekaligus membukakan jalan dan fasilitas yang diperlukan dalam berbagai media untuk kegairahan bersastra, sehingga layak untuk diperingati sebagai momen hari pendidikan skala lokal.

Dan, ketiga, buku Tanah Huma merupakan buku puisi pertama dari Kalimantan yang diterbitkan dalam bentuk buku, yang menjadi pioner dalam penerbitan buku puisi. Indonesia pada tahun 1973, dapat dianggap sebagai tahun kegelapan, karena pada tahun tersebut tidak ada satupun buku yang terbit, bagaimana dengan Kalimantan? Hal ketiga ini masih perlu dikonfirmasi, agar lebih jelas untuk menentukan terbitnya Tanah Huma layak untuk diperingati dalam rangka Hari Buku Nasional skala lokal setiap tanggal 17 Mei.

Dengan melihat kembali pada penerbitan Tanah Huma, dari tiga penyair Kalimantan, secara langsung atau tidak langsung untuk mencoba memperhatikan dan merenungkan kembali jejak sejarah yang terkadang semakin samar karena lemahnya dokumentasi yang tersedia atau yang dapat dipelihara keberadaannya. Di samping itu, tiga hal yang dikemukakan masih perlu mendapatkan konfirmasi dari berbagai pihak, untuk tidak menjadi hal yang dianggap berlebihan.

Keberadaan ketiga penyair dalam Tanah Huma perlu mendapatkan apresiasi sesuai dengan sumbangsihnya yang begitu berharga dalam perkembangan dan kegairahan dalam bidang sastra di Kalimantan. Penting untuk digaris bawahi apa yang dinyatakan Micky Hidayat, “kita pun patut hargai peran dan jasa besar para almarhum sastrawan banua.”, untuk menegaskan bahwa teladan yang terdekat dengan kehidupan kita lebih bermakna jika terus dihidupkan dalam kehidupan sekarang. Masih banyak hal yang perlu dituliskan tentang ketiga penyair tersebut, tentu banyak dari penyair ataupun penikmat sastra yang perlu berbagi dalam hal ini.

*) Acara baca puisi dan apresiasi, “Semalam di Mingguraya Melintas ke Tanah Huma”, pada tanggal 18 Mei pukul 20.15 Wita di Mingguraya, Banjarbaru. Acara terbuka untuk umum.

(SKH Media Kalimantan, 6 Mei 2012: A5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: