MELINTAS KE TANAH HUMA


Oleh: HE. Benyamine

Perayaan pembacaan puisi dengan kemasan Semalam di Mingguraya Melintas ke Tanah Huma sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan atas peran dan karya D. Zauhidhie, Yustan Aziddin, Hijaz Yamani dalam perkembangan sastra di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Selatan, pada tanggal 18 Mei 2012 pukul 21:30 sampai dengan selesai di Panggung Bundar Mingguraya Banjarbaru berjalan dengan lancar dan menghadirkan beragam kesan yang mengingatkan pada kegigihan, ketulusan, kesabaran, dan kreativitas yang terus menjalar dalam karya dan berkarya dari ketiga tokoh penyair Kalimantan tersebut.

Hingga selesainya acara melintas ke Tanah Huma, kehadiran beberapa tokoh penyair Kalimantan Selatan, seakan menegaskan bahwa Buku Tanah Huma (TH) yang diterbitkan penerbit Pustaka Jaya (Jakarta) pada tahun 1978, dengan nama-nama penyairnya; D. Zauhiddie, Yustan Aziddin, dan Hijaz Yamani, yang pada zamannya hingga sekarang masih dirasakan meriahnya perayaan puisi. Sebagian besar penyair Kalsel selanjutnya terutama generasi yang dekat dengan zamannya, ketiga nama tersebut tetap hidup dan bermakna.

Kota Kandangan mengabadikan nama D. Zauhidhie sebagai nama Panggung Terbuku di ruang publik dan melengkapi dengan puisi beliau yang berjudul Kandangan Kotaku Manis yang tertulis di dekat panggung. Hal ini tentu saja berhubungan dengan peran dan karya yang bersangkutan memberikan inspirasi dan motivasi dalam dinamika kesusastraan. Begitu juga dengan peran Yustan Aziddin dan Hijaz Yamani yang melalui media membuka ruang yang lebar terhadap karya-karya penyair untuk disebarkan dan diapresiasi. Begitu juga dengan gaung “Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (UMSIS)” di RRI Nusantara III Banjarmasin. UMSIS merupakan siaran yang cukup lama dalam kontinuitas dalam mengudarakan puisi menjangkau pendengarnya.

Semalam di Mingguraya Melintas ke Tanah Huma tentu saja menjadi lebih bermakna, karena para penyair dan penggiat seni generasi yang pernah berinteraksi dengan ketiga tokoh penyair dalam buku Tanah Huma datang dari berbagai kota di Kalimantan Selatan, seperti Arsyad Indradi, Hamami Adaby, Iberamsyah Barbary, Drs. Sirajul Huda, Ali Syamsuddin Arsi (Banjarbaru), Abdurrahman El Husaini (Martapura), Eko Suryadi WS, Gonzalis (Kotabaru), Samsuni Sarman (Batola), Abdul Karim (Tanah Bumbu), Yadi Muryadi dan Ida P., Ariel (Banjarmasin), Fahmi Wahid (Barabai), Zoel Kanwa (Tanjung), dan generasi baru seperti Kalsum Belgis, Zuraidah atau Dian Arlika, Rezqi (Barabai), Rico Hasyim, dan lainnya. Mereka menyampaikan kesan dan kenangan yang hingga sekarang masih terasa bermakna dalam kehidupan mereka selanjutnya.

Pada acara melintas ke Tanah Huma, mereka yang hadir diminta untuk secara spontan menuliskan puisi dengan judul besarnya Tanah Huma, sehingga siapapun – penyair atau bukan, akan menuliskan apa yang ada dalam benak dan pikirannya tentang tanah huma. Puisi-puisi yang ditulis secara spontan tersebut, sebagiannya diterbitkan melalui media massa.

Dalam acara pembacaan puisi tampil generasi yang langsung bersentuhan dengan masa kehidupan ketiga tokoh penyair dalam Tanah Huma, selain itu juga tampil generasi baru seperti Isuur Loewang yang membacakan 4 puisi dalam Tanah Huma dengan penuh daya pukau, MS. Arief dengan daya kejutnya, Rezqi, Xlima Hanjiwa, Ardhie, Abdillah dari Rumah Cerdas Banjarbaru, dan Harie Insani Putra.

Di samping itu, Wakil Walikota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli juga turut serta membacakan satu sajak dari buku Tanah Huma, yang memberikan kebermaknaan tersendiri dari acara melintas ke Tanah Huma. Penampilan Wawali membaca puisi memberikan semangat kebersamaan dalam apresiasi terhadap karya sastra.

Begitu juga dengan kehadiran tokoh-tokoh partai politik dan sosial  Kota Banjarbaru, seperti Darmawan Jaya Setiawan (Wakil Ketua PPP Kota Banjarbaru), Soegeng Soesanto (Ketua PAN Kota Banjarbaru, Dewa Pahuluan (Nasdem Kota Banjarbaru), Yohandromeda Syamsu, secara langsung menambah kesemarakan dan silaturahim yang bermakna. Melalui pembacaan puisi secara tidak langsung mengajak berbagai pihak untuk bersama menikmati ungkapan jiwa dan nilai yang sebenarnya ada pada masing-masing orang, yang pada saat pembacaan itu seakan terungkap ke permukaan dan nampak terlihat. Setidaknya, pembacaan puisi memberikan warna berbeda dengan aktivitas lainnya, yang mencairkan kedataran bahasa dalam bisnis dan politik.

Dalam acara perayaan pembacaan puisi Tanah Huma ini memperlihatkan adanya ruang bersama, ruang yang lebar, yang dapat menyentuh berbagai kalangan untuk merasakan ungkapan-ungkapan dengan cara berbeda dan mengambil kebermaknaannya secara beragam. Dengan pembacaan puisi dan menikmatinya, secara sadar maupun tidak sadar, telah membuka pintu hati untuk menemukan bahasa yang bukan datar dan kering, tetapi suatu bahasa yang universal dengan kelembutan, kekerasan, keteguhan, kesungguhan, kepedulian, keriuhan, kesedihan, keperihan, keindahan, dan harapan yang hidup.

Tanah Huma merupakan buku yang pada zamannya telah memberikan kontribusi bermakna dalam perkembangan dan kemeriahan sastra di Kalimantan, yang mana ketiga tokohnya telah menjadi tauladan yang hidup hingga sekarang dalam keteguhan, ketulusan, dan kebersahajaan dalam berkarya dan mendorong serta membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk terus berkarya dan menghargai serta mengapresiasi karya siapa saja dengan lapang dan baik.

Melintas ke Tanah Huma, mengandaikan untuk terus melihat kembali tanah-tanah huma, untuk selanjutnya menyebarkan benih-benih dan tentunya menjaga tanah humanya tersebut.

Banjarbaru, 20 Mei 2012

One Response

  1. pembacaan puisi Tanah Huma semoga senantiasa terjaga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: