Sapu Tangan Fang Yin: Mimpi Indonesia (Atas Nama Cinta Denny JA)


Oleh: HE. Benyamine

Perlawanan. Begitulah yang tergambar dalam puisi esai Sapu Tangan Fang Yin dalam buku Atas Nama Cinta Sebuah Puisi Esai (renebook, Cetakan I, April 2012: halaman 10 – 49). Melawan masa lalu yang dapat menghilangkan mimpi. Mimpi tentang adanya kebahagian yang tak terduga dan terkadang tersembunyi akibat bencana dan musibah.

Trauma Fang Yin dapat dirasakan dalam puisi esai ini, juga bagaimana perjuangannya untuk keluar dari masa lalu yang sekejap terjadi namun telah merubah kehidupannya, dengan dukungan keluarga dan orang-orang yang sebelumnya tidak dikenalnya.  Fang Yin berjuang untuk mengalahkan masa lalu yang terbatas dan sekilas saja dengan waktu selama 13 tahun, dengan meninggalkan rumahnya sekaligus kehidupannya di Kapuk, Jakarta Utara, “Sebuah bangunan yang tinggi temboknya”. Perumahan yang digambarkan sebagai tempat yang tertutup, bagai negara Tirai Bambu, “Berjajar di samping rumah-rumah lain/Yang pagarnya seakan berlomba/Mana yang paling tinggi mana yang paling kokoh/Semua dihuni warga keturunan Tionghoa.

Tragedi yang tergambar dalam puisi esai ini, dibumbui oleh cinta yang hilang, cinta Kho, pemuda yang dulu memiliki janji untuk menemani Fang Yin  dalam keadaan apapun, “Terutama di kala susah”. Fang Yin terjatuh dan tertimpa tangga juga, yang melengkapi musibah pada dirinya.  Hidup lah yang membuatnya trauma, singkat dan membunuh, namun selalu saja hidup kembali. Kehidupan Fang Yin telah mengarahkan hidupnya pada melawan diri sendiri untuk tidak pernah menyerah pada apapun yang di luar dirinya, sekalipun itu telah menjadi bagian dari dirinya sendiri.

Perlawanan Fang Yin, telah diawalinya selama 13 tahun, dan selanjutnya ia harus terus melawan karena “Ia ingin Indonesia seperti dirinya: menang melawan masa lalu”.  Selama 13 tahun yang digambarkan dalam puisi esai, ada upaya yang positif untuk tidak berpegang pada sikap dan tindakan pihak-pihak yang dulu menjadi sebab musibah yang menimpanya atau berusaha melihat berbagai hal yang memungkinkan terjadinya peristiwa Mei 1998, sebagai sebuah lompatan atas kecenderungan kebaikan manusia yang masih ada dalam setiap diri orang sekalipun picik dan rasisnya orang tersebut; kejadian yang lebih karena didesain untuk kepentingan tertentu, bukan karena alasan diskriminasi atau pun rasis.

Dalam puisi esai Sapu Tangan Fang Yin, penulisnya, berusaha membangkitkan empati dan bahkan simpati pembacanya serta bagaimana seseorang yang tidak mengenal dan terlibat dalam dunia politik menjadi korban pertarungan berbagai kekuatan yang mengejar kekuasaan dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Namun demikian, penulis puisi esai ini tidak begitu berhasil mengetuk pintu hati pembaca dalam hal empati, karena banyak catatan kaki yang menjadikan puisi esai ini menjadi konsumsi pikiran bukan hati.

Di samping itu, penulis puisi esai ini menjadikan isu diskriminasi sebagai pembungkus yang seakan layak jual, tanpa melihat beberapa hal adanya stigma terhadap warga Tionghoa, seperti yang terungkap dalam “Fang Yin pun menjerit, mohon ampun/Jangan … jangan …/Saya punya uang/Ampun. Jangan.” Hal ini seakan menjelaskan bahwa warga Tionghoa cenderung berpikir segalanya akan selesai dengan uang. Dalam keadaan yang menakutkan dan menghantui dengan begitu genting, masih mampu menawarkan uang, dan menyembunyikan perlawanan yang mungkin terjadi.

Dalam beberapa hal, puisi esai ini, juga mengetengahkan perilaku kekerasan yang diadopsi Fang Yin, seperti dengan awal dan selalu diulang-ulang; “Ditatapnya sekali lagi sapu tangan itu/tak lagi putih; tiga belas tahun berlalu/Korek api di tangan, siap membakarnya/menjadi abu masa lalu.” Meski yang diharapkan adanya suasana kebatinan orang yang berada dalam situasi trauma dan mencoba melawan trauma tersebut, namun malah membuat suasana menjadi sesuatu yang datar dan kehilangan emosinya untuk menyelami lebih dalam suasana kebatinan Fang Yin; sehingga lebih pada permukaan saja.

Puisi esai ini, sebagai sebuah cerita, merupakan suatu cerita dengan akhir cerita yang bahagia. Kemenangan dengan kebahagiaan, yang melupakan pembungkus cerita yang bernama diskriminasi, dan malah melupakan bagaimana diskriminasi itulah yang dianggap sebagai pangkal dari terjadinya peristiwa; atau setidaknya yang dianggapkan sebagai dasar puisi esai ini.

Fang Yin menang melawan masa lalu; dan meski ia berharap Indonesia seperti dirinya, ternyata dengan harapan Indonesia baru, yang tentu saja merupakan harapan bersama, Indonesia yang tidak melupakan masa lalu dan terjerambab kembali dengan masa lalunya.

Selebihnya, penulis puisi esai ini, hanya meminjam sosok Fang Yin, untuk membingkai pandangannya terhadap Indonesia yang baru dengan tidak terperangkap  masa lalu yang menyuburkan diskriminasi, tetapi berani menatap matahari harapan dan “Yang penting harus tetap punya mimpi.” Sehingga menjadi penting juga untuk bangun dan bangkit, Indonesia menjadi punya harapan.

(Media Kalimantan, Minggu,  1 Juli 2012: A4)

One Response

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb…HE. Benyamine

    Marhaban yaa Ramadhan..
    Pucuk selasih bertunas menjulang
    Dahannya patah tolong betulkan,
    Puasa Ramadhan kembali menjelang,
    Salah dan khilaf mohon dimaafkan.

    Selamat Menunaikan Ibadah puasa
    Semoga amal ibadah kita diterima Allah dan amalan kita semakin bertambah baik dari sebelumnya.

    Salam Ramadhan dari Sarikei, Sarawak.😀

    HEB: Wa’alaikum salam wr.wb. … terima kasih Fatimah, salam Ramadhan, mohon maaf lahir batin. Masih belum sempat berkunjung balik, namun tetap teriring dalam ingatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: