PUISI (53): KERINDUAN TERPENDAM


Tertatih menahan letih diri mengikuti lapar dahaga

kelaparan bergeming bagai menanti tetesan getah

torehan mengalur menuju pancuran yang ditancapkan

luka oleh tangan-tangan pemuja lapar dahaga

 

Lapar dahaga yang merindu dunia

bagai kehausan yang meminum air laut

tiada habis hingga diri tenggelam di samudera

 

Seribu bulan merayu lapar dahaga jiwa

menyentuh kerinduan terpendam saat ditiupkan ruh

 

Banjarbaru, 14 Agustus 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: