TAMAN KOTA


Cerpen: HE. Benyamine

Saat aku memilih tinggal di kota ini, alasan utamanya karena tidak ada orang yang kukenal. Juga sebaliknya, tidak ada yang mengenal diriku.  Aku menemukan kebebasan  di kota ini. Aku dapat bertegur sapa dengan siapa saja. Di mana saja dengan mudah senyum mengembang. Tanpa prasangka. Ada yang acuh tak acuh. Terkadang ada saja ketemu orang yang mengatakan bahwa rasa-rasanya pernah bertemu dengan diriku. Begitu juga dengan pengemis yang berkeliaran di kota ini, mereka melihat diriku seakan sudah sangat dekat dan akrab, yang langsung saja menyudurkan tagihan dengan tangannya. Ah, kota ini melepaskan diriku, memandang orang dari sisi pikiran positif. Sendiri dalam keramaian.

Sebenarnya masa kecilku mengelana di kota ini. Masa yang terhampar kebebasan dan penuh rasa ingin tahu, menyusuri ruas-ruas jalan dengan sepeda berpayung rimbunnya pepohonan yang menghijau meskipun di musim kemarau seakan menyembunyikan terik sang surya. Sudah puluhan tahun berlalu. Hampir semuanya berubah, dan saat perubahan itu berlangsung, aku seperti orang yang menghilang tanpa kabar berita. Namun, saat aku kembali ke kota ini, masih kutemukan kebebasan dan rasa ingin tahu, karena aku tidak mengenal lagi kota ini.

Dengan berjalan santai, setelah parkir motor, masuk ke taman yang sekarang jauh lebih rapi dan bersih dibandingkan masa kecilku. Berbeda memang, dulu banyak pohon-pohon rindang, sekarang lebih banyak bunga-bunga menghiasi sudut-sudut taman. Para pedagang keliling dan PKL juga menambah perbedaan itu. Juga para pengemis dengan berbagai tampilan mereka yang meramaikan taman menjadi pembeda yang begitu kontras dengan keadaan dulu.

Ah, aku tidak sedang berada di taman pada masa kecilku,” pikirku sambil mengusap mukaku,  “Aku sendang berada di taman yang baru pertama kali kudatangi. Tiada yang dapat kukenali lagi. Aku merasakan kebebasan di taman ini. Semua orang yang kutemui di sini adalah orang asing. Aku sendiri orang asing bagi orang-orang yang ada di taman.  Sekilas kuperhatikan, terbetik di pikiranku, orang-orang yang berkumpul di taman ini satu dengan yang lain juga orang asing.” Pikiranku seakan ingin meyakinkan bahwa aku berada di tempat yang baru pertama kukunjungi. Masing-masing orang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Memang masih sempat senyum diberikan, bukan karena saling mengenal, tapi senyum itu merupakan petunjuk satu dengan yang lain tidak saling mengenal.

“Menyenangkan berada di taman ini,” gumamku dalam hati dan kemudian menegaskan dalam pikiranku, “Aku dapat meraih kebebasan di tengah keramaian.”  Perasaan dan pikiran merasakan kebebasan di tengah keramaian di mana tiada satupun orang yang mengenal diriku, satu dengan yang lain berada di jalur masing-masing,  dan  terasa betapa mudah untuk tersenyum sebagai ungkapan memahami posisi masing-masing. Para pengemis menjalankan profesinya dengan mudah dibandingkan jika mereka mengetuk pintu rumah-rumah seperti dulu.  Orang-orang yang rekreasi di taman juga mudah saja memberikan recehan mereka untuk para pengemis yang mendekat, entahlah jika dibandingkan untuk memberi tetangganya yang hidup memang membutuhkan batuan tetapi tidak berprofesi sebagai pengemis.

Aku duduk di bangku taman bukan karena lelah berjalan-jalan, tapi lebih karena ingin memperhatikan orang-orang yang sedang bergerak dari posisi diriku yang diam.  Aku ingin diam. Semakin sore para pengunjung taman semakin bertambah banyak. Semakin ramai dan padat dengan berbagai tampilan dan gaya, mereka bergerak seperti semut, kadang berhenti sejenak, kadang bertegur sapa, dan kembali bergerak. Suasana taman dihiasi warna-warni pakaian yang mereka kenakan. Warna-warni bunga yang ada sudah tidak sebanding lagi dengan warna pakaian orang-orang yang bergerak seperti semut di taman ini. Entah mengapa aku ingin memperhatikan orang-orang yang berkunjung ke taman.  Namun yang jelas, aku menikmati kebebasan dan rasa ingin tahu di taman ini, bagai keramaian yang senyap saat berada di tengahnya ketika tiada seorangpun yang dikenal dan mengenal diriku. Aku diam. Mereka bergerak.

**

            Seseorang mendekat ke arah tempat dudukku. Dia bergerak dengan cepat. Matanya seperti menatap ke mataku. Bukan sepertinya. Semakin mendekat jelas terlihat dia tersenyum. Aku merasa dia mengenalku. Serasa akan ada gangguan terhadap kebebasan yang sedang kurasakan saat ini. Tepat di hadapanku, ia hanya tersenyum, kemudian duduk di sampingku pada bangku yang sama. Ternyata dia tidak mengenalku, kamipun sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku diam.

“Lagi nunggu anak bermain di taman ini juga, ya mas?”

Tidak. Sendirian saja. Habis jalan keliling di sekitar sini. Kebetulan di sini teduh dan ada bangku,” jawabku sekenanya seraya berpaling kepada orang yang mengajakku bicara.

“Oh, saya kira tadi sama keluarga juga. Di sini enak untuk bersantai bersama keluarga. Tamannya bersih dan terawat. Anak-anak senang ke sini. Tidak seperti di tempat lainnya. Juga di perumahan kita,” selorohnya dengan lancar.

“Ya … ya … ya, seperti di kompleks kita,” anggukku yang kaget mendengar kata kita.

Aku menggeser posisiku ke arahnya. Kucoba mengenali orang yang berbicara denganku ini. Aku benar-benar tidak dapat mencarinya di memori otakku. Apakah aku lupa karena sedang dimabuk kebebasan dan rasa ingin tahu. Belum ketemu siapa dan di mana pernah ketemu dengan orang ini, ia kembali berbicara.

“Pemerintah kota kita sangat bersemangat mengejar piala Adipura. Semua tempat titik penilaian diperhatikan dan digelontorkan anggarannya yang besar. Lihat saja tempat ini dan sekitarnya. Hampir tidak kita temukan sampah berserakan. Coba bandingkan dengan kompleks kita, jalan-jalan berlubang hampir seperti kubangan, dan kita bingung membuang sampah ke mana. Warga jadi memilih membuang di tanah-tanah yang masih kosong. Di sini setiap pagi para penyapu jalanan membersihkan jalan-jalan dan taman-taman,” celotehnya seakan sedang menemukan baskom kosong untuk diisi dengan gondokan sampah di kepalanya.

Ya, benar. Beberapa tempat menjadi terlihat bersih, rapi, dan indah,” sambutku  dengan ringan. Aku mulai merasa terganggu dengan kebebasan yang baru saja kurasakan.

“Coba mas bayangkan. Untuk sebuah piala Adipura yang hingga saat ini tidak saya rasakan kepentingannya bagi warga masyarakat, terutama diri saya sendiri.  Para pedagang kaki lima harus main kejar-kejaran dengan Satpol PP. Padahal jika dipikirkan kembali, toh pemerintah belum sanggup membuka dan menyediakan lapangan kerja baru, lah orang-orang yang berdikari seperti para PKL itu terus diburu karena alasan merusak keindahan dan kerapihan kota.  Para PKL kan malah tidak membebani kerja pemerintah. Ingat kan mas, saat krisis tahun 1998, kalangan informal ini yang mampu bertahan dan membantu pemerintah mengatasi krisis. Memang secara tidak langsung,” lanjutnya dengan penuh semangat tapi tetap pelan ngomongnya.

“Iya, para PKL juga bisa diminta untuk menjaga kebersihan dan kerapihan. Seharusnya pemerintah memposisikan para PKL sebagai aset dan kelompok yang tidak membebani anggaran, karena pemerintah dapat memikirkan hal lain selain masalah lapangan kerja yang terbatas,” responku seadanya dengan merelakan sebagian kebebasanku diterabasnya.

“Nah, itu yang saya maksudkan. Begini toh mas, anggaran untuk merebut piala Adipura tidak perlu diutamakan, lebih baik anggarannya diarahkan untuk kepentingan warga masyarakat di lingkungan yang terdekat dengan kehidupan mereka. Seperti tempat sampah saja begitu sulit menemukannya. Bahkan ada kompleks perumahan yang menggembok tempat sampahnya. Warga masyarakat kita lebih membutuhkan tempat hunian yang bersih dan sehat dibandingkan piala Adipura. Juga para pedagang asongan yang di pinggir jalan-jalan itu lebih butuh penghasilan daripada piala Adipura,” potongnya dengan tetap bersemangat.

Sebelum orang di sampingku terus memuntahkan isi kepalanya, aku ingin menyatakan minta pamit. Belum terucap, dari jauh ada yang memanggil orang di sampingku, tidak berapa lama seorang anak dan perempuan mendekat ke arah kami. Aku merasa pernah melihat perempuan itu pikirku.

“Assalamu’alaikum, mas. Sama siapa ke sini?” sapa perempuan istri orang di sampingku.

“Wa’alaikum salam. Sendirian saja,” sahutku dengan mencoba terus mengingat.

“Mas, yuk kita pulang, ade sudah minta pulang,” ucapnya kepada lelaki di sampingku.

“Wah, sebenarnya lagi seru bicara sama mas, lain kali kita lanjutkan,” kata lelaki yang sedari tadi berbicara dengan diriku. Ia seperti sedang dirampas kebebasannya saat mengucapkan kalimat mengakhiri pembicaraan.

Aku baru sadar. Perempuan yang bersama suami dan anaknya, yang barusan menyatakan duluan pulang adalah tetangga satu kompleks.  Aku memang tidak pernah bertemu dengan suaminya, karena ia berangkat kerja pagi sekali dan pulang malam hari. Aku mengenali perempuan itu karena pernah saling senyum saat berpapasan di kompleks perumahan kami, dan aku memang tidak mengenal mereka secara langsung.

Aku kembali menemukan kebebasanku, kesendirian di tengah keramaian. Terasa senyap di hiruk-pikuk keceriaan orang-orang yang menikmati waktu senggang mereka. Aku diam kembali. Tak begitu lama, aku  mulai bergerak meninggalkan bangku yang telah mengikatku untuk sementara.

***

            Pembicaraan dengan lelaki yang ternyata tetangga satu kompleks, seakan telah mengusik kebebasanku. Bagaimana tidak. Hal-hal yang berhubungan dengan PKL yang mencoba berdikari dan menutupi kelemahan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja harus diperlakukan layaknya anak haram yang terus dimusuhi hanya karena alasan kebersihan dan ketertiban. Namun yang lebih mengusik pikiranku adalah ternyata aku tidak mengenal orang yang dekat tempat tinggalku sendiri. Aku tahu bahwa keluarga tadi juga tidak mengenalku sebagai seseorang, mereka hanya tahu bahwa aku adalah tetangga mereka. Menutupi rasa bersalah, aku menghibur diri dengan meyakinkan pada diriku bahwa aku orang baru di kota ini. Tetangga baru. Baru sekali.

Seraya melangkahkan kaki menyusuri trotoar jalan yang bersih, aku menjadi melihat diriku, seseorang yang belum ada mengenal dan dikenal orang kecuali tetangga rumah yang barusan bertegur sapa tadi. Tentu masih merasa dalam kebebasan meski di tengah keramaian. Aku menjadi mengingat-ngingat orang-orang yang kukenal di tempat tinggal dulu, yang juga memang tidak mengenal tetangga atau warga kompleks sekitar. Aku juga mengetahui teman-temanku di kota itu juga tidak begitu mengenal tetangganya.

Aku menyusuri ingatanku, terlintas orang-orang yang kukenal dengan baik selain teman-temanku adalah orang-orang yang sering berbicara dengan diriku melalui media televisi. Mereka adalah elit partai dan para penguasa negeri ini. Juga para selebriti. Aku tahu berapa banyak rumah yang mereka miliki. Mobil apa saja yang ada di garasinya. Bahkan tentang istri simpanannya atau perempuan yang menemaninya. Dibandingkan dengan pengenalanku atas tetangga tempat tinggalku dulu, jelas aku lebih mengenal para aktor politik dan kekuasaan di negeri ini. Sedangkan mereka tentu saja tidak mengenal diriku, kecuali saat tergabung dalam kata rakyat. Ah, aku berdalil menutupi hal ini dengan mengatakan bahwa mereka yang di televisi terus menyapa, kadang setiap saat, ketika aku menghidupkan televisi.

“Pak … permisi,” sapa seorang peminta yang cacat dengan ditemani seorang yang tidak cacat sambil menadahkan tangan  dengan ekspresi yang seadanya.

“Apakah kamu mengenal saya?” Tanyaku agak aneh.

“Tidak, Pak.” Jawab mereka serentak dengan pelan sekali.

“Oh, aku kira tadi kalian mengenalku,” ucapku   setengah berbisik sambil aku merogoh kantong celana dan mengambil recehan yang tersisa untuk kuberikan kepada mereka.

“Terima kasih,” pamit mereka dengan senyum yang menunjukkan bahwa tidak mengenalku, setidaknya begitulah yang kutangkap maksudnya.

Aku jadi teringat ucapan tetangga tadi, taman-taman di sini selalu diperhatikan dengan baik, yang seakan menunjukkan pada diriku tentang keadaan taman yang memang terawat dengan baik, sehingga memberikan keleluasaan dan kenyamanan bagi siapa saja untuk menikmatinya seolah-olah ganti suasana dengan lingkungan tempat tinggal sendiri. Semua orang seperti menemukan kebebasannya bercengkerama dengan teman, saudara, dan keluarga. Aku tidak bisa membedakan status sosial orang-orang di taman, namun yang jelas mereka mempunyai hak yang sama di taman ini. Para pengemis juga menemukan tempat di mana kebanyakan orang yang berkumpul sedang menemukan kegembiraannya. Menadahkan tangan dengan orang gembira tentu saja jauh berbeda dengan orang yang tidak gembira.

Dengan perasaan kesendirian di tengah keramaian begitu membuat diriku terus merasakan kebebasan. Senyum kepada orang yang berselisihan dan kebetulan bertatapan mata. Atau, bersentuhan bahu tanpa peduli dan tegur sapa, lewat saja. Pengemis lainnya, seorang buta yang dipandu seorang tidak buta,  dari jauh sudah menunjukkan ketertarikannya mendekat dengan wajah yang menerima apa saja yang diberikan. Taman kota ini seakan menyembunyikan segala persoalan kehidupan warga kota. Taman seindah dan sebagus ini, juga taman-taman kecil lainnya yang ada di kota ini, tentu dengan anggaran perawatan yang cukup besar, dengan pemandangan cukup banyak para pengemis yang menjalankan profesinya.

Di mana sebenarnya negara yang menjamin dan memelihara orang-orang cacat dan terlantar. Pemerintah kota ini dapat memperhatikan taman kotanya dan juga membiarkan orang-orang cacat dan terlantar berkeliaran di taman menjadi pengemis. Dinas Sosial sepertinya merasa diselamatkan oleh adanya taman ini, karena mereka tidak perlu repot lagi dengan permasalahan orang-orang cacat dan terlantar. Bahkan orang gila bebas bersosialisasi di taman.  Atau mungkin, ya mungkin sekali, para pengemis dengan penampilan yang berbeda yang beroperasi di taman ini bukan warga kota ini. Para pengemis itu datang karena di sini terdapat taman tempat warga kota berkumpul bersama keluarga yang tentunya dalam suasana hati senang, setidaknya perasaan senang itu saat berada di taman, dapat menyimpan untuk sementara persoalan hidup.

****

            Lampu-lampu taman mulai dinyalakan. Langit memerah sudah mengalah pada desakan gelap. Suara azan magrib terasa merdu ketika didengar dari taman ini. Sebagian warga kota telah menuju rumah, kembali pada suasana bukan taman, yang sebagiannya harus melewati tumpukan sampah di sisi jalan. Kondisi jalan yang cukup banyak lubang-lubang. Pengemis-pengemis juga menghilang. Warga yang tetap bertahan terus bercengkerama, mereka terlihat riang dan penuh senda gurau. Wajah-wajah yang tidak kukenal dan tidak mengenal diriku.

Aku merasa adanya keheningan untuk sementara di taman ini. Kebebasan dan dorongan rasa ingin tahu tetap dapat kurasakan dan kunikmati di sini. Hal ini seperti tidak berbeda dengan yang kurasakan pada saat berada di tengah jamaah shalat Jum’at. Berada di tengah orang banyak yang sibuk dengan urasannya masing-masing. Ada yang tertidur saat khotbah berlangsung yang tiba-tiba bangun dengan kejut dan kemudian tidur kembali.

Selesai azan magrib, aku putuskan pulang saja, kemudian aku menuju tempat parkir motor. Kebebasan masih berpihak pada diriku, karena tidak ada orang yang mengenali dan kukenal di kota ini, kecuali tetangga kompleks tadi. Senyap dalam keramaian.

“Berapa?” Tanyaku pada penjaga parkir.

“Tak usah Bang. Oh iya, tadi ada pesan dari orang rumah Abang. Katanya Abang diminta cepat pulang karena mau berangkat ke rumah  saudara setelah magrib,” jawab penjaga parkir.

“Terima kasih,” ucapku dengan lekat kutatap penjaga parkir yang kemudian begitu saja meninggalkan diriku dan kembali mengatur parkir kendaraan yang lainnya.

 

Banjarbaru, Juni 2012, 02:30 Wita (Senyap dalam keheningan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: