KORUPSI DI MATA PUISI


Oleh: HE. Benyamine

 

Gagasan menghimpun puisi penyair Indonesia dalam sebuah buku Puisi Menolak Korupsi (2013) oleh Sosiawan Leak merupakan bentuk gerakan moral melalui puisi untuk menyatakan penolakan terhadap tindak korupsi di negeri ini yang semakin mencekik leher bangsa Indonesia. Beberapa puisi di dalamnya bernada satiris, seperti puisi Aloysius Slamet Widodo yang berjudul Namaku Korupsi,  yang menyatakan korupsi sebagai “karena aku budaya”.   Sebagai gerakan kultural, gerakan Puisi Menolak Korupsi merupakan wujud kegetiran dan respon kritis penyair atas keadaan masyarakat-bangsa Indonesia yang sedang sakit; bahkan sekarat. Ungkapan “karena aku budaya” dari korupsi menghunuskan kegetiran mengenai hancurnya sebuah kebudayaan yang bernama bangsa Indonesia. Hal ini diungkapkan Sumasno Hadi ketika menyampaikan pengantar bahan diskusi dengan judul Anti Korupsi di Mata Puisi: Panglima Lumpuh, Prajurit Mengeluh, Penyair Bergermuruh dalam Diskusi Sastra Malam Sabtu, 7 Juni 2013, dengan topik Korupsi di Mata Puisi di Aula Perpustakaan dan Arsip Daerah (Pustarda) Kota Banjarbaru.

Korupsi, di negeri ini, seperti bagian dari hiburan saja, dan pelakunya tampil sebagaimana orang pada umumnya. Nampak bagai sedang berperan sebagai tokoh-tokoh dalam dunia hiburan, seakan berkata beginilah tokoh antagonis. Kebusukan tiada lain dari keadaan tuntutan peran, dan para koruptor ketika hadir di ruang-ruang keluarga melalui televisi tampil dengan senyum yang tak terlihat kebusukannya.

Puisi menolak korupsi! Bagaimana korupsi di mata puisi? Gerakan menolak korupsi dengan media puisi merupakan gerakan kultural dan moral, yang menyadari tak berdayanya negera dalam mewujudkan kebajikan publik dan kesejahteraan yang berkeadilan ketika korupsi seakan menjadi pilihan paling mudah dan tercepat di negara ini.

Menurut Sumasno Hadi, fenomena koruptor yang tayang di televisi hanya seperti gunung es; yang nampak sebagian kecilnya saja. Untuk melawan ganasnya kanker korupsi, dengan jalan cinta yang memang suatu jalan yang tidak praktis (pragmatis), yang sejalan dengan kerja dunia sastra yang tidak mudah untuk diidentifikasi sebagai kerja pragmatis, sehingga energi dari gerakan para penyair untuk mencipta karya puisi sebagai gerakan menolak korupsi memiliki beban yang paradoks.  Hasil yang sepi merupakan bagian dari paradoksal dari gerakan Penyair Indonesia Menolak Korupsi, namun demikian gerakan ini menjadi semacam “daya hidup” (sebagaimana sering diungkapkan Rendra) untuk menyuarakan keberpihakan pada kebenaran meskipun kanker korupsi itu telah bebal tersumbat kemunafikan yang kronis. Paradoks ini jelas terungkap dalam bagian puisi Ali Syamsudin Arsi dalam buku Puisi Menolak Korupsi, “penyair berdiri di batas paling sepi” (hal.42).

Saat berkesempatan bicara, Saprudin atau Rudi, mempertanyakan pesan yang ingin disampaikan dengan puisi, karena puisi tidak selalu dapat dengan mudah dipahami, apalagi masyarakat umum. Menurut Rudi, korupsi ini berpangkal dari krisis kepemimpinan, yang memudahkan suburnya hal negatif yang menjadi penggerak budaya. Pesan dari puisi tentu harus diarahkan membangkitkan hal yang positif, sehingga gerakan puisi menolak korupsi dapat mengembalikan budaya yang lebih bernilai suci.

Menanggapi korupsi telah menjadi budaya, Ahmad Azhar Ajang merasa khawatir akan persepsi generasi muda nantinya, bagaimana jika korupsi dianggap sebagai warisan nenek moyang karena budaya? Ajang lebih cenderung mengatakan bahwa korupsi adalah penyimpangan budaya yang hasil budi daya cipta. Menurut Ajang, penyair kadang merasa korupsi seolah-olah jauh dari dirinya. Kita termasuk yang menikmati fasilitas dan sarana dari tindak korupsi, jalan yang tak sesuai dengan kualitas tendernya, bangunan yang berkurang takaran bahannya,  bensin di jalan-jalan, dan banyak lagi yang selama ini membuat kita hanya diam seolah-olah itu sudah hal biasa.

Pada kondisi tertentu, saat mengalami dilema dalam suatu situasi birokrasi, Ajang sempat mengungkapkan ke dalam sebuah puisi, bait terakhirnya, “aku meringkuk beku/di sudut ruang gelap/tanpa bisa berbuat/terbelenggu dogma-dogma penguasa”. Situasi itu, dan banyak situasi orang lain, harus berhadapan dengan pilihan sulit. Hal ini juga dirasakan Winda Noor Amalia dan Aan Setiawan, yang harus berhadapan dengan dilema, yang situasi dan kondisi mengarahkan pada tindak korupsi. Namun, bagi Rezqie, kita sendiri koruptor.

Dalam berpikir juga dapat terjadi cara yang koruptif. Berpikir koruptif dapat terlihat dari berbicara sesuatu tak sesuai dengan kenyataannya, dan kadang malah keluar dari persoalan yang dihadapi dan cenderung tak relevan. Hal ini terjadi akibat lemahnya daya kritis dan sikap mudah menelan infomasi yang tak utuh.

Gerakan puisi menolak korupsi, bagi Ali Syamsudin Arsi, membangkitkan antusias, yang mendorongnya ikut terlibat dalam penerbitan antologi Puisi Menolak Korupsi. Penerbitan buku ini dengan pembiayaan swadaya dari penyair, dan dibarangi dengan roadshow di beberapa kota untuk mengkomunikasikan gerakan puisi menolak korupsi ini.

Ali Syamsudin Arsi mempertanyakan kebenaran karena alasan budaya korupsi terjadi, atau sebenarnya budaya hanya alasan saja untuk membenarkan tindak korupsi. Melalui puisi, sebenarnya lebih membebaskan gerakan dan memperluas jangkauannya.  Melalui puisi, dapat masuk dari berbagai ilmu dan pengetahuan. Arsi menambahkan bahwa semuanya menjadi terdampak oleh tindak korupsi, hutan yang berubah jadi kaca, sekolah yang ambruk, jembatan yang hilang besinya, dan sebagainya.

Lebih lanjut Ali Syamsudin Arsi mengatakan bahwa penyair itu berdiri pada garis tengah, baik ke atas tidak menghamba maupun ke bawah tidak larut pada keterpinggiran. Seperti kata Rendra dengan berumah di awan. Atau, dengan kata lain selalu menjaga keseimbangan. Tentu saja, penyair  tidak termasuk bagian dari yang menghalalkan intimidasi, seperti dalam hal berpikir yang harus begini harus begitu tapi sebenarnya tidak tahu begini-begitunya.

Sedangkan Arsyad Indradi, si Penyair Gila, karena korupsi merugikan dan busuk tentu tiada kata lain selain menolaknya.  Arsyad Indradi membacakan baik puisinya di dalam buku Puisi Menolak Korupsi, yang berjudul Pohon Para, “Sebab ia adalah cuma pohon/Maka tak perlu iba tak perlu terima kasih karena kau manusia?/Jika tubuhnya tak berdarah lagi/Lalu ditebang dan dipotongpotong dijadikan kayu bakar”. Hanya manusia yang dapat melakukan korupsi, manusia yang tak punya hati dan cinta.

Bagi Yulian Manan, puisi itu keluar dari rasa sehingga ia cenderung bersih dan peduli serta dari ketersentuhan atas tindak kejaliman; korupsi. Anti korupsi sebenarnya banyak cara, mereka yang demo itu langsung berhadapan muka menyuarakan anti korupsi, dan penyair melalui kata-kata yang terkadang tak mudah dimengerti pesannya. Sudah dengan kata lembut lalu ganti kata kasar, korupsi seperti tak hirau, kata seperti diterbangkan angin saja.

Kemudian Sandi Firly melihat gerakan puisi menolak korupsi masih belum dapat diraba dampaknya. Ketika Rendra bergerak dengan puisi, masa itu jelas yang dilawan. Sekarang, korupsi seperti siluman saja dan menyebar mengakar, sehingga tak jelas yang dilawan.  Seperti pembentukan lembaga ad hoc KPK yang mengadopsi Hongkong dalam pemberantasan korupsi, yang ternyata di Indonesia menghadapi orang-orang bebal. Sandi menilai kata “menolak” dalam gerakan ini tidak strategis dan kuat pesannya, terkesan malu-malu dan tanggung. Menurut Sandi lebih tepat menggunakan kata “melawan” yang punya aura jelas dan kuat.

Namun bagi Ali Syamsudin Arsi, apa yang dikemukan Sandi, sudah dibahas dan diperdebatkan, dan ternyata yang dipilih seperti tampilan buku Puisi Menolak Korupsi itu. Tapi, terlepas semua itu, gerakan puisi menolak korupsi ini, bagi Ali Syamsudin Arsi, bergerak dari spirit dan mulai melaju dengan adanya roadshow yang dimulai di Blitar, kemudian Tegal, dan yang ketiga Kota Banjarbaru pada tanggal 28 Juni nanti di Panggung Bundar Mingguraya.

Pada akhir diskusi, Sumasno Hadi, mengemukakan bahwa budaya sesungguhnya berpihak pada yang suci, karena ia hasil budi daya cipta. Sehingga, gerakan puisi menolak korupsi dapat dikatakan bahwa penyair berusaha menjaga pikiran tetap sehat, menjaga daya hidup, dan menjaga berada di tengah. Mencuplik bait puisinya yang berjudul Sajak Rumusan Korupsi dalam buku Puisi Menolak Korupsi, “Korupsi adalah kebudayaan/Kebudayaan yang tersesat/Kebudayaan yang sekarat/Kebudayaan yang laknat/: kontra kebudayaan”.

Pada diskusi ke-6 ini, hadir bu Nunung (Kepala Pustarda Kota Banjarbaru), M. Wilmi, Ahmad Dani, dan lainnya. Sempat mampir Hudan Nur dan suaminya bersama Jinan. Kudapan yang dibawa Winda Noor Amelia menambah energi diskusi, dengan kopi/teh dan snack dari Pustarda. Kabar gembira juga datang dari Sumasno Hadi dan Laila Rizka, yang mengundang kawan-kawan pada acara pernikahan (28 Juni) dan resepsi mereka pada tanggal 30 Juni di Gedung Serbaguna Unlam Banjarmasin. Selamat berbahagia dan tuntung pandang serta ruhui rahayu.

Banjarmasin, 8 Juni 2013

(Media Kalimantan, 9 Juni 2013: A4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: