FESTIVAL MURAKATA I: Sastra dan Seni yang Menggembirakan


Oleh: HE. Benyamine

Rimbun dengan pepohonan seakan memberi suasana puitis pada suatu tempat, bagai senandung yang menyatu dengan acara Lomba dan Pagelaran Seni Budaya Festival Murakata I (15 -17/8/2014), begitulah lapangan Dwi Warna Barabai dan sekitarnya. Lomba yang diperuntukan bagi pelajar se-Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini dengan tema Menampi Paung Sastra di Bumi Murakata Melanggat Jejak Juang Pahlawan Kemerdekaan Lewat Ekspresi Kembara Jiwa Mengembalikan Barabai Parisj van Borneo, merupakan festival yang terselenggara karena adanya berbagai kegiatan sastra dan seni sebelumnya; rutinitas, instens, dan partisipatif.

 


Festival Murakata I lebih tepat dikatakan sebagai buah kerja dan kesungguhan penggiat seni di HST, yang mulai melakukan aktivitas dari yang paling mungkin dilaksanakan dengan segala keterbatasan, namun rutinitas, intens, dan partisipatif. Sejak dilaksanakan pertama kali Lapak Sastra dan Seni Dwi Warna Barabai, 11 (sebelas) bulan yang lalu, yang rutin melaksanakan kegiatan malanggat sastra dan seni setiap Minggu pagi, secara tidak langsung memberikan suasana dan gairah dalam kesenian di bumi Murakata. Kegiatan rutin yang terjaga tidak akan terlaksana, meski sederhana, jika tidak adanya partisipasi dan kesukarelaan serta kerendahan hati dari para penggiat kesenian.
Melalui Lapak Sastra dan Seni (LSS) Dwi Warna yang didasarkan pada partisipasi dan melibatkan berbagai pihak membuka peluang dan cara pandang yang terbuka, terutama dalam hal sumberdaya di masyarakat yang selama ini dibiarkan saja karena orientasi lebih tertuju pada sumberdaya yang ada di pemerintah (daerah). Sumberdaya yang ada di pemerintah (daerah), selain para pengambil kebijakan yang abai pada jiwa seninya, dari segi anggaran sangat terbatas, sehingga para penggiat kesenian perlu mulai mencari sumberdaya yang tersebar di masyarakat atau stakeholder, sekaligus melibatkan mereka dalam kegiatan tersebut.
Pada Lomba dan Pagelaran Seni Budaya Festival Murakata I tergambar bagaimana panitia mulai melibatkan berbagai sumberdaya yang tersebar di masyarakat dan stakeholder, sehingga kegiatan seni dan budaya bukan hanya memenuhi hasrat seniman/sastrawan saja, tetapi lebih menintegrasikan berbagai hasrat dan kepentingan dari berbagai kalangan yang sebenarnya terikat dengan nikmat seni itu sendiri. Pada pelaksanaan Festival Murakata I ini terlihat keterlibatan pihak dunia usaha, masyarakat, pemerintah daerah, dan penggiat kesenian serta seniman/sastrawan.
Acara Festival Murakata I terasa mewah dengan panggung besar yang gemerlap, yang merupakan partisipasi dari Manasaba Studio, sehingga memberikan rasa terhormat bagi para seniman atau sastrawan ketika tampil pada stage and lighting layaknya konser musik dari band terkenal. Para peserta lomba juga terlihat begitu menawan dan bagai penyanyi profisional ketika menyanyikan lagu wajib Barabai Barasih karya Khairani Zain, “Tugas kita barataan/Mamalihara lawan manjaga kabarsihan banua kita/Tuha anum kahada katinggalan/Sabarataan taumpat jua bakawajiban mamalihara/Jangan pang kulir/Bila disuruh alih nang tuha babarasih/Jangan manambah rigat/Mambuang ratik bahambur nang sambarangan/Nang sakira… nyaman dilihat mata/Nang sakira… Barabai nyaman dirasa/Bila barasih… nang tapalihara/Higa mahiga kadada ratiknya/Bajauh panyakit/Tajauh pulang lawan bahaya”,sehingga yang menyaksikan dan penampil ada kebanggaan tersendiri. Begitu juga keterlibatan pihak lain seperti Toko Sahabat Barabai, Developer Griya Gambah Asri, Sophie Paris BC Maratusshalehah Barabai, Toko Rayhan’s Elektronik, Hitra Computer Kandangan, Wong Solo Barabai, yang berpartisipasi baik dari produk maupun penunjang kegiatan lainnya.
Festival Murakata I dengan meyakinkan memilih tema manampi paung sastra dengan mengadakan lomba tingkat pelajar, nyanyi solo Banjar dan baca puisi bahasa Banjar, yang ternyata terlihat begitu antusias pelajar dalam mengikuti lomba itu, mereka seperti paung yang unggul, karena mereka tampil dengan meyakinkan dan kesungguhan. Begitu juga dengan lomba mewarna dan menggambar tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar, dengan peserta yang terlihat seperti rumput hijau menghiasi lokasi lomba di bawah rindang pepohonan.
Pada malam pembukaan Festival Murakata I diberikan Anugerah Insan Seni Murakata kepada beberapa penggiat seni yang diserahkan kepala Disporabudpar Kab. HST mewakili bupati yang berhalangan hadir. Pemberian penghargaan ini sebagaimana ketua pelaksana sampaikan ketika memberikan sambutan, bahwa mereka sebenarnya tidak berpikir tentang penghargaan ini namun karena mereka memang layak dan pantas menerimnya, terutama dalam semangat berkarya dan mendorong kekaryaan di bumi Murakata. Anugerah ini berdasarkan hasil penilaian komunitas Lapak Sastra dan Seni Dwi Warna, yang menerima penghargaan mereka yang aktif dan terlibat dalam kegiatan di komunitas, seperti Ernawati dalam seni suara, Kaspul Anwar dalam seni tari, Taberi Lipani karena puisi, dan Fiqry Ramoy karena kolaborasi puisi dan tari. Festival Murakata I ini, menurut M. Yani, Damang Lapak sekaligus ketua pelaksana, merupakan bagian dari proses menghargai akal budi dan daya cipta, meskipun dilakukan dengan yang paling sederhana. Hal ini tiada lain dari investasi peradaban.
Lomba bakisah bahasa Banjar, bagi peserta merupakan ekspresi bahasa ibu dan ekspresi tradisi masyarakat hulu sungai, sehingga ada ungkapan takaluar Birayangnya (bahasa), dan bakisah menjadi ajang melihat kembali tradisi tutur seperti basyair, pantun, dan bakisah yang lebih sebagai pembentukan karakter dan nasehat yang lembut bagi generasi berikut. Peserta lomba bakisah hampir 100 orang, memberi harapan adanya paung seni yang perlu mendapat perhatian semua pihak di HST. Saat ini, pendidikan karakter seperti barang baru dalam dunia pendidikan, sedangkan di masyarakat telah berkembang lama pendidikan tersebut melalui tradisi seperti bakisah tersebut.
Dalam lomba baca puisi bahasa Banjar, pelajar HST terlihat begitu berbahagia ketika membacakan puisi, seakan mereka bukan dalam lomba tapi hanya sedang melakukan kegembiraan dan bergembira bersama. Puisi pada saat ini, di negara Barat mulai didorong untuk dilisankan kembali, hal ini terlihat bahwa di HST tradisi lisan dapat menjadi sandaran kembali menghidupkan syair, pantun, dan puisi serta bakisah. Tentu saja, LSS Dwi Warna merupakan wahana dan gelanggang untuk menggairahkan sastra dan seni, melalui tampilan pembacaan puisi dan seni lainnya.
Melihat Festival Murakata I, tentu terbayang bagaimana kabupaten di banua Anam lainnya yang juga punya paung-paung unggul untuk dimuliakan dalam kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Sederhana namun rutin, intens, dan partisipatif. Rombongan Dewan Kesenian Banjarbaru dan Banjarbaru Dalam Lesan merasa terhormat menjadi bagian acara Festival Murakata I, merasakan gairah dan semangat yang mengesankan dan membanggakan. Banua Anam, harapan yang masih tersembunyi, dan kegiatan LSS Dwi Warna telah menampak sebagai salah satunya.
Banjarbaru, 23 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: