DERAS TERNYATA RINDU MENGALIR

: Adinda

Oleh: HE. Benyamine

Ketika hujan itu, kau menatap tanpa binar, hanya linangan yang merembes sesaat aku mengatakan badai telah menetap dalam dadaku, kau genggam tanganku bukan karena mendengar apa yang telah kuucapkan, tapi rindumu, ya rindumu bagai gemuruh yang terdengar saat kau menutup kedua telingamu dengan kedua tanganmu. Aku menatap rindumu: hujan ini rasanya.

Malam menahan tetes deraimu, teramat singkat gerimis saat ini, kau tak sanggup kusembunyikan, lebih deras ternyata rindu mengalir dari sumber batinku yang lepas menggenang di kelopak keterpejamanku. Continue reading

Advertisements