TAMAN KOTA

Cerpen: HE. Benyamine

Saat aku memilih tinggal di kota ini, alasan utamanya karena tidak ada orang yang kukenal. Juga sebaliknya, tidak ada yang mengenal diriku.  Aku menemukan kebebasan  di kota ini. Aku dapat bertegur sapa dengan siapa saja. Di mana saja dengan mudah senyum mengembang. Tanpa prasangka. Ada yang acuh tak acuh. Terkadang ada saja ketemu orang yang mengatakan bahwa rasa-rasanya pernah bertemu dengan diriku. Begitu juga dengan pengemis yang berkeliaran di kota ini, mereka melihat diriku seakan sudah sangat dekat dan akrab, yang langsung saja menyudurkan tagihan dengan tangannya. Ah, kota ini melepaskan diriku, memandang orang dari sisi pikiran positif. Sendiri dalam keramaian.

Continue reading

Advertisements

CERPEN (3): LANGIT HITAM TANAH MERAH

Oleh: HE. Benyamine

*

Sekilas masih terlihat ada warna biru di langit, selebihnya warna hitam. Penderitaan dan kesengsaraan sudah menjadi bagian dari kehidupan sebagian orang. Semua orang tidak ada yang menghendaki keadaan menderita dan sengsara. Mungkin, hanya karena alasan cinta ada orang yang rela berada dalam keadaan tersebut, dengan harapan yang melampaui batas kesadaran sebagai seorang manusia; pengorbanan dan kegilaan.

Continue reading

CERPEN (2) HE. BENYAMINE

PUTRI JILBAB

*

Bayangan itu menghilang begitu saja. Sesaat terasa hening seakan menggoda dan membuai. Sudah lama bayangan itu menghiasi cahaya kehidupannya, mengusik dan terkadang menusuk luka yang mulai mengering, sekaligus mampu memberinya dorongan untuk tetap hidup menahan rasa yang hilang dan mati berkali-kali.

“Penderitaan sudah ditakdirkan mengiringi yang hidup”, lamun Jarjua seakan ingin menegaskan kepada dirinya tentang penderitaan yang selama ini telah menjadi bagian dalam perjalanan hidupnya. Semua manusia yang merasa hidup tentu pernah merasakan penderitaan, hanya saja masing-masing mempunyai caranya dalam bermain-main dengan penderitaan tersebut. Jarjua masih termenung meskipun sekarang sedang berada di pusat keramaian kota Banjarbaru, Taman Idaman, yang penuh dengan berbagai suara yang sedang melupakan rutinitas kehidupan. Jarjua terkadang mendengar jeritan-jeritan dari orang-orang yang ada dikeramai ini, seakan begitu jelas terdengar namun tidak ada yang peduli.

Continue reading

CERPEN HE. BENYAMINE: HANTU GEDUNG DEWAN BANJARBARU

HANTU GEDUNG DEWAN BANJARBARU

Gedung dewan Kota Banjarbaru terlihat megah. Malam tidak bisa menyembunyikan kemegahannya. Gedungnya baru. Masih nampak terawat. Pada malam hari masih ada cleaning service yang bekerja, menyapu, mengepel lantai, dan merapikan semua peralatan. Besok sudah tertata rapi dan bersih. Keamanan gedung juga masih terlihat pada malam hari. Gedung dewan persis menghadap lapangan Murjani, yang menjadi tempat berkumpulnya warga kota, terutama kalangan muda dengan segala aktivitasnya. Pedagang makanan yang menempati median jalan sekitar lapangan memberikan warna tersendiri yang menjadikan berdetaknya kehidupan malam di lapangan Murjani.

Warga kota pernah mengalami kejadian yang aneh saat lewat di depan Gedung Dewan Kota Banjarbaru. Waktu itu malam tidak begitu larut, masih banyak orang yang mengitari dan duduk-duduk di lapangan. Pedagang masih sibuk melayani pembeli yang duduk lesehan. Aneh memang! Gedung baru sudah diterpa isu adanya penampakan. Entah dari mana sumbernya, yang jelas sudah ada warga kota yang mengalaminya. Penampakan yang tidak wajar. Mana ada penampakan yang wajar, jadi yang tidak wajar lebih cepat menyebar. Gedung dewan ada hantu. Warga kota merasakan merinding bila lewat gedung dewan tersebut, bahkan waktu siang sekalipun.

Continue reading