ANGGREK MERATUS (5)

Beberapa hari ini lingkungan sekitar rumah, pada sisi tertentu, ada semerbak yang khas dan berbeda dengan wangi bunga yang lainnya.  Pada sisi tertentu, semerbak bunga sari gading yang menyertai hembusan angin, pada sisi yang lain wangi bunga kenanga yang semilir terbawa sepoi-sepoi angin lewat.

Semerbak yang berbeda itu ternyata berasal dari bungan anggrek meratus di bawah ini.  Parfum alami yang membawa suasana kebahagiaan dan menyediakan daya khayal yang menembus langit. Menghirup dengan dalam saat berada di dekatnya, kembali mengambil nafas, dan penciuman ini mendapatkan sensasi tersendiri.

Continue reading

ANGGREK MERATUS (4)

Lahan kritis di Kalimantan Selatan lebih dari 500 ribu hektar. Sementara kegiatan reboisasi yang dicanangkan pemerintah (terutama daearah) tidak lebih dari 5 ribu hektar per tahun, dan hasilnya belum bisa dinyatakan berhasil. Anggaran untuk kegiatan reboisasi dalam realisasinya lebih banyak tidak tepat sasaran, malah yang tercium lebih berbau proyek dengan slogan yang penting ada kegiatan reboisasi khususnya menanam pohon.

anggrek hutan meratus foto4 nopember

Anggrek bulbul meratus 01

Anggrek pandan meratus 01

Continue reading

KEBAKARAN LAHAN DI KALIMANTAN TENGAH

Oleh: HE. Benyamine

Sekelompok orang yang disebut pengecut dan tidak bertanggung jawab oleh Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, karena mereka terus melakukan pembakaran lahan hingga menyebabkan kabut asap yang pekat. Sekelompok orang itu, menurutnya perlu mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat; kucilkan saja orang-orang tersebut (www.antaranews.com, diakses 9 September 2009; Gubernur: Pembakar Lahan Itu Pengecut). Kegeraman gubernur sebagai suatu keprihatinan terjadinya kabut asap yang pekat yang hampir merata di 14 kabupaten/kota akibat kebakaran lahan adalah suatu kewajaran dan memang seharusnya.

Di sisi lain, geramnya gubernur Kalteng ini memberikan kesan tidak adanya perencanaan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Karena dikemukan saat terjadinya kebakaran hutan dan lahan dengan disertai kabut asap. Gubernur Kalteng juga pernah menyatakan akan mundur (tahun 2006) jika semua pihak tidak ada yang peduli terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi. Padahal, sebagai gubernur sudah seharusnya menyadari tentang kondisi Kalimantan Tengah adalah termasuk wilayah yang rentan dan potensial terjadinya kebakaran hutan dan lahan karena akibat kerusakan ekologis hutan, khususnya hutan gambut dimana fungsi hidrologisnya rusak, seperti akibat Proyek Lahan Gambut 1 juta hektar.

Continue reading

MEMBAKAR DENGAN PENGETAHUAN

Kebakaran Hutan Dan Lahan Stigma Masyarakat Lokal

Oleh: HE. Benyamine

Musim kemarau telah tiba, yang berarti diikuti oleh berbagai bentuk kebakaran. Seolah musim kemarau punya kembarannya yang gemuk dan besar, yang potensial menjadi musuh karena wujudnya api. Ada kebakaran perkampungan di perkotaan, karena tata ruang perkotaan untuk sebagian wilayahnya memang telah berkembang dan tumbuh menjadi wilayah yang rentan terhadap api. Kebakaran perkampungan sangat merisaukan dan memilukan, terlebih lagi biasanya perkampungan tersebut adalah bagian strata masyarakat menengah ke bawah, sehingga kebakaran tersebut merupakan bentuk dehumanisasi. Namun demikian, kebakaran perkampungan tersebut hanyalah berita sedih dan pilu saja, berbeda dengan kebakaran hutan dan lahan yang dengan cepat sampai menjadi berita internasional.

Kebakaran hutan dan lahan menjadi momok tersendiri setiap tahun pada musim kemarau, ada yang menyatakan bahwa sebab kebakaran tersebut adalah hampir semuanya berasal dari aktivitas manusia (Acep Akbar, B.Post, 10 Juli 2004). Bahkan data Asian Development Bank menyatakan bahwa hanya 1 persen yang menyebabkan kebakaran dari sebab-sebab alami, selebihnya yang 99 persen adalah akibat perbuatan manusia. Manusia yang mana? Karena, hanya mengatakan manusia saja seolah terlalu menyederhanakan eksistensi kemajemukan manusia itu sendiri. Terlebih lagi, perlu dibedakan antara kebakaran hutan dengan kebakaran lahan. Kebakaran hutan tentunya di dalam kawasan hutan, sedangkan kebakaran lahan sebaliknya. Tentu ada perbedaan manusia antara di dalam kawasan hutan dengan yang di luarnya.

Kebakaran hutan dapat terjadi seperti di areal HPH dan Hutan Lindung. Adapun kebakaran lahan dapat terjadi seperti di areal Perkebunan Inti Rakyat, ladang, dan kebun. Kedua macam kebakaran ini bisa terjadi secara bersamaan, karena lokasi hutan berdekatan dengan areal yang dinamakan lahan tersebut. Dengan adanya perbedaan tersebut, tentu ada perbedaan pandangan dan pengetahuan yang dimiliki manusia yang dianggap sebagai penyebab kebakaran hutan tersebut. Pada kesempatan ini, manusia yang hidupnya masih menerapkan sistem ladang berpindah perlu mendapat perhatian yang lebih adil dan berempati dengan sistem pengetahuan yang menjadi landasan dari tindakan dalam kehidupan mereka.

Continue reading

KEBAKARAN HUTAN ATAU BENCANA TERENCANA

Oleh: HE. Benyamine

Kebakaran hutan dan lahan sangat mengkhawatirkan dan sangat merugikan dalam berbagai hal, baik secara ekonomi dan sosial maupun secara ekologi. Dampak yang segera terasa adalah asap, sampai negara tetangga juga merasakannya, apalagi yang dekat dengan sumbernya. Belum lagi dampak yang harus diterima setelah kebakaran hutan dan lahan, yaitu rusaknya ekologi, yang dengan sendiri akan ditanggung oleh masyarakat yang ada di sekitar dan di dalam hutan secara langsung, dan seluruh masyarakat secara tidak langsung.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahun seperti sudah dianggap sebagai suatu kejadian “alamiah” dan rutin, sehingga hanya saat kebakaran semua menjadi sibuk dan merasa berkepentingan untuk menghentikannya, seakan kebakaran tersebut sangat merugikan saat kebakaran saja. Padahal, setelah datangnya musim hujan, kebakaran hutan dan lahan seperti tidak pernah ada dan digantikan oleh bencana lain, sehingga hampir tidak ada tindakan preventif yang direncanakan, baik secara nasional maupun di daerah, sebagai kesadaran dan kepedulian yang menandakan bahwa telah terjadi kebakaran hutan dan lahan yang “membumihanguskan kehidupan” secara rutin setiap tahunnya.

Continue reading

BALAI ADAT MERATUS

Oleh: HE. Benyamine


Masyarakat adat Pegunungan Meratus minta sumbangan seng untuk atap Balai Adat atau untuk keperluan renovasi Balai Adat. Ada apa dengan masyarakat adat tersebut, sehingga untuk merenovasi balai adat mereka harus meminta sumbangan dengan pihak lain. Bagaimana jika mereka harus membangun balai adat baru, mungkin lebih tidak sanggup lagi. Masyarakat minta sumbangan, apalagi kepada pemerintah, bukanlah perbuatan yang dilarang ataupun merendahkan masyarakat tersebut. Tapi, minta sumbangan untuk sesuatu yang menjadi bagian dari budaya masyarakat itu sendiri terasa menyedihkan dan memunculkan tanda tanya besar; apa yang sedang terjadi dengan masyarakat adat tersebut. Apalagi keberadaan balai adat tersebut termasuk bagian budaya yang sangat vital dan penting.

Di Balai Adat ini, upacara Aruh Ganal di selenggarakan

Di Balai Adat ini, upacara Aruh Ganal di selenggarakan (Foto: http://www.melayuonline.com)

Continue reading

PERLADANGAN BERPINDAH: Bentuk Pertanian Konservasi Pada Wilayah Tropis Basah

Oleh: HE. Benyamine

Pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) dibutuhkan suatu kearifan dan menjaga keseimbangan; pilihan yang lestari, untuk memenuhi kebutuhan sekarang  maupun generasi mendatang. Dalam pemanfaatan sumberdaya alam, misalnya lahan  pertanian diperlukan perencanaan dan penanganan yang tepat dan  bertanggung jawab, agar lahan tersebut tidak terdegradasi dan tetap memberikan keuntungan. Degradasi lahan untuk tanah-tanah tropis umumnya disebabkan oleh erosi.  Penanggulangan erosi telah banyak dilakukan dan dikembangkan melalui tekonologi-teknologi konservasi tanah dan air.

Continue reading