Bunga-Bunga Menjelma Kau

: Adinda (keep smile as)

Menemukan kau, begitu dalam ketulusan tersembunyi/

Hamparan rawa memendam kemurnian juga ketidaktahuan/

Harapan bagai belantara tropis berdandan hujan pelangi/

Mengirim mantra-mantra benih mentari menuju kau, hijau daun/

Mengisahkan telah lama bunga-bunga menjelma kau, bukan mimpi/

Hening langkah kerinduan meski badai melahap impian//

Continue reading

Advertisements

PUISI: KAU MEMASUKI JANTUNGKU

Oleh: HE. Benyamine

 

belantara mengasihiku, bebas

kau temukan aku

bagai pepohonan telah terbakar

langsung debarkan jantung

mengiringi ketiadaan hadirmu

tak ada tempat sembunyi

kau berdetak dalam sunyi juga hiruk

sungguh dekat, begitu lekat

 

selalu saja, kau hadir impian

tiada jarak sisakan sekat

lintasan waktu hapus kenangan

sungguh lekat, begitu hati pekat

 

matamu pencarianku pada pelangi

lorong mistis pacu gemuruh jiwa

daya angkuhku serupa perupa hilang visi

jantungmu, adakah gelisah?

badai mana mampu ganggu jantungku

tak beraturan berdegup

 

kau memasuki jantungku

belantara mengasihiku, kau bebas

sungguh damai, begitu dekat

tanganmu menggenggam yakin

tumbuh wangi harapan

mengalir menyusuri rindu

mendekap tak berhenti

 

Banjarbaru, 27 Januari 2014

11114G

PUISI: KEKASIH (7)

Sejak kau menemu hatiku malu, rindu menetap

Bebas hadirmu bagai pelukis menemu kanvas

Tiada harap seperti pelangi menanti henti hujan

Senyum itu

Kau hembuskan pada angin, menyapa

 

O Kekasih

Kau hadir bagai hujan terbebas kungkungan awan

Lapang bagai kecupan embun sambut mentari

Melayang, menyapa

 

Banjarbaru, 27 Januari 2013

PUISI (54): WABAH LAPAR DAHAGA

Hiduplah hidup yang hidup menghidupi lumbung lambung

setiap saat memekikkan perih lalu meringkih

lantang lapar dahaga mengumandangkan merdeka

menggoda perut merebut kekuasaan

merunduklah kepala-kepala buat senang perut

perut sebarkan wabah menjilat lapar dahaga.

 

Hidup perut hiduplah hidup

mulut-mulut kekuasaan tertukar perut

menganga saja

hingga punah kata penuh

 

Lapar dahaga pandangan hidup perut, dan

koruptor pilihan profesi favorit

dalam lindungan kekuasaan perut

 

Banjarbaru, 15 Agustus 2011

PUISI (53): KERINDUAN TERPENDAM

Tertatih menahan letih diri mengikuti lapar dahaga

kelaparan bergeming bagai menanti tetesan getah

torehan mengalur menuju pancuran yang ditancapkan

luka oleh tangan-tangan pemuja lapar dahaga

 

Lapar dahaga yang merindu dunia

bagai kehausan yang meminum air laut

tiada habis hingga diri tenggelam di samudera

 

Seribu bulan merayu lapar dahaga jiwa

menyentuh kerinduan terpendam saat ditiupkan ruh

 

Banjarbaru, 14 Agustus 2011

PUISI (52): KAU TEMUKAN RINDU

Senja itu kau kehilangan bayangan

hingga mimpi tidur gelap menghias

saat membuka mata bagai kau temukan rindu

meski senyum dia masih sisa yang dulu

 

Sudah kau lebur arti kehilangan pada kerinduan

hingga teramat bening mata dia yang terus membayang  

 

Banjarbaru, 23 Agustus 2011

PUISI (51): RINDU YANG KUMAU

Rindu yang kumau tak berujung

hingga waktu menyerah bersamaku

 

Sejak kau tanam dirimu di hatiku

teramat bebas kerinduan menjadi

 

Banjarbaru, 19 Agustus 2011