FESTIVAL MURAKATA I: Sastra dan Seni yang Menggembirakan

Oleh: HE. Benyamine

Rimbun dengan pepohonan seakan memberi suasana puitis pada suatu tempat, bagai senandung yang menyatu dengan acara Lomba dan Pagelaran Seni Budaya Festival Murakata I (15 -17/8/2014), begitulah lapangan Dwi Warna Barabai dan sekitarnya. Lomba yang diperuntukan bagi pelajar se-Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini dengan tema Menampi Paung Sastra di Bumi Murakata Melanggat Jejak Juang Pahlawan Kemerdekaan Lewat Ekspresi Kembara Jiwa Mengembalikan Barabai Parisj van Borneo, merupakan festival yang terselenggara karena adanya berbagai kegiatan sastra dan seni sebelumnya; rutinitas, instens, dan partisipatif.

 

Continue reading

Advertisements

NOVEL LAMPAU: LOKSADO YANG INDAH

Oleh: HE. Benyamine

“When knowledgeable old person dies, a whole library disappears”

Loksado merupakan tujuan wisata yang ada di Kalimantan Selatan. Wisata alam yang mempunyai daya tarik dari segi keindahan alam dan tradisi masyarakatnya. Jika menyebut bambu rafting, maka nama Loksado yang terlintas. Pengetahuan lokal sesungguhnya merupakan hal penting dalam kehidupan masyarakat yang berdiam di wilayah Loksado, yang menempatkan tokoh/orang tua pada tempat yang terhormat dan bernilai sebagaimana pepatah Afrika di atas.

Continue reading

Korban Bernama Kalimantan Selatan (Media Kalimantan, 30 Maret 2014: A5)

HE. Benyamine

Membayangkan Kalimantan Selatan sebagaimana puisi Kalimantan Selatan 2030 Kemudian karya Micky Hidayat (MH) dalam Antologi Sungai Kenangan (ASKS IX, Banjarmasin, 2012, hal. 100 – 101) terasa begitu gamblang ada kemarahan “aku” yang lepas kendali dan harapan.  Kalimantan Selatan mengalami gangguan psikologi yang sangat berat, depresi berat, dan ketiadaan lagi harapan yang tersisa; korban perkosaan brutal dengan kegilaan yang frustasi pada kekerasan dan penguasaan libido tak terkendali.

Di satu sisi, MH masih meminta untuk merenungkan semua perbuatan yang berakibat pada “sesuatu yang tak terbayangkan” akan terjadi kemudian dari segala kegilaan dan kebrutalan tindakan sekarang pada alam Kalimantan Selatan. Renungankanlah! Adakah kesempatan untuk merenungkan tindakan yang dilakukan dengan kegilaan dan kebrutalan? Terpikirkah pemerkosa ketika sedang dalam aksinya! Coba bayangkan apa yang digambarkan MH bagaimana alam ini diperlakukan dalam bait pertama berikut:

Teruslah perkosa aku

senafsu-nafsu syahwat rakusmu

tebas dan cabik-cabik tubuhku

sebirahi-birahi erangmu

cakar dan bongkar isi perutku

sepuas-puas raungmu.

Continue reading

KORUPSI DI MATA PUISI

Oleh: HE. Benyamine

 

Gagasan menghimpun puisi penyair Indonesia dalam sebuah buku Puisi Menolak Korupsi (2013) oleh Sosiawan Leak merupakan bentuk gerakan moral melalui puisi untuk menyatakan penolakan terhadap tindak korupsi di negeri ini yang semakin mencekik leher bangsa Indonesia. Beberapa puisi di dalamnya bernada satiris, seperti puisi Aloysius Slamet Widodo yang berjudul Namaku Korupsi,  yang menyatakan korupsi sebagai “karena aku budaya”.   Sebagai gerakan kultural, gerakan Puisi Menolak Korupsi merupakan wujud kegetiran dan respon kritis penyair atas keadaan masyarakat-bangsa Indonesia yang sedang sakit; bahkan sekarat. Ungkapan “karena aku budaya” dari korupsi menghunuskan kegetiran mengenai hancurnya sebuah kebudayaan yang bernama bangsa Indonesia. Hal ini diungkapkan Sumasno Hadi ketika menyampaikan pengantar bahan diskusi dengan judul Anti Korupsi di Mata Puisi: Panglima Lumpuh, Prajurit Mengeluh, Penyair Bergermuruh dalam Diskusi Sastra Malam Sabtu, 7 Juni 2013, dengan topik Korupsi di Mata Puisi di Aula Perpustakaan dan Arsip Daerah (Pustarda) Kota Banjarbaru.

Continue reading

ISU KELANGKAAN BBM MENYESATKAN

Oleh: HE. Benyamine

Keprihatinan Forum Peduli Banua dengan kondisi “kelangkaan” BBM di Kalimantan Selatan (6/4/13: 9), yang tahun 2012 melakukan gerakan pemblokiran tongkang batu bara, perlu mendapat apresiasi yang positif, namun memprihatinkan pada dasar yang menjadi persoalan BBM ini.

Continue reading

TINDAKAN DARURAT UNTUK SDN BANJARBARU UTARA 7

Oleh: HE. Benyamine

Kebakaran SDN Banjarbaru Utara 7 pada tanggal 11 Oktober 2012 merupakan bencana, yang seharusnya mendapatkan prioritas tindakan pasca kebakaran sebagai bagian tanggap darurat Kota Banjarbaru. Namun hingga saat ini, bangunan dengan pagar lambang dinas pendidikan, sebagaimana yang terlihat pada foto account facebook Banjarbaru Dalam Lensa (26 November 2012), masih dibiarkan sebagai saksi bisu kebakaran tersebut. Tidak ada tindakan cepat Pemkot Banjarbaru sebagai bagian dari mendahulukan wajib belajar 9 tahun, atau reaksi cepat betapa pentingnya sekolah bagi kota ini.

Foto: Banjarbaru Dalam Lensa

Foto: Banjarbaru Dalam Lensa 

Melihat foto Banjarbaru Dalam Lensa tersebut, ada rasa yang menyesakkan saat melihat foto para petinggi Kota Banjarbaru sedang berada di Belanda dengan label “sekolah”, sehingga terbayang murid-murid SDN Banjarbaru Utara 7 tetap sekolah di tempat lain, karena sekolah mereka masih dibiarkan saja. Para petinggi tersebut, Walikota Banjarbaru, Sekdakot, dan Ketua DPRD Kota Banjarbaru, terlihat begitu riang dapat “sekolah” di Belanda, meski hanya untuk waktu 14 hari. Sementara, murid-murid yang bangunan sekolahnya terbakar, tetap riang dengan jadwal yang disesuaikan, karena sekolah mereka sudah hampir 2 bulan dibiarkan saja.

Setelah kebakaran SDN Banjarbaru Utara 7, kota Banjarbaru seakan sedang mengalami “serangan api” terhadap sekolah-sekolah yang ada. Penyebabnya tidak diketahui. Ada SDN Banjarbaru Utara 2, yang dua gedungnya ludes dilahap api. Ada kebakaran kecil SDN Banjarbaru Utara 1, lalu kebakaran kecil di SMAN I Banjarbaru. Hal ini harus mendapatkan tindakan yang cepat dan prioritas. Kota Banjarbaru sepatutnya dapat melakukan tindakan yang peduli terhadap kasus kebakaran sekolah ini, tidak membiarkan bangunan sekolah menunggu tahun anggaran berikutnya.

Continue reading

SAWIT DI LAHAN RAWA: PERLEMAH ROAD MAPS PEMBANGUNAN HST

Oleh: HE. Benyamine

Ekspos Kajian Potensi Lahan Rawa untuk Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Kabupaten HST (24/10/12), merupakan awal tindakan seolah mengilmiahkan pembukaan perkebunan kelapa sawit skala besar. Kajian akan dilakukan di tiga kecamatan yang ada di HST, yang diketahui memiliki potensi lahan rawa, seperti kecamatan Labuan Amas Utara (LAU), kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS), dan kecamatan Pandawan (Media Kalimantan, 25 Oktober 2012: A7).  Lahan rawa (lahan basah) dengan keanekaragaman hayati tinggi, yang juga sangat rentan terhadap gangguan lingkungan, apalagi untuk perkebunan besar kelapa sawit yang akan melakukan perubahan topografi lingkungan menjadi seragam, tentu tidak ada alasan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan selain mengarahkan pada kerusakan dan tragedi lingkungan HST.

Continue reading