NOVEL “GALUH HATI” KONSTRUKSI KEMANUSIAAN BANJAR

Oleh: HE. Benyamine

Novel Galuh Hati (GH) menggambarkan bahwa pendulangan intan Cempaka tak lebih dari lokasinya skandal cinta dan tempat kerja orang-orang yang bernasib buruk belaka. Dalam hal estetika, GH lebih baik dari karya sebelumnya yang bercerita tentang pendulangan Cempaka, baik bentuk cerpen maupun novel. Hal ini dikemukakan Tajuddin Noor Ganie (TNG) yang menjadi pengantar diskusi pada Diskusi Sastra Malam Sabtu (21/3/14) di Auditorium Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan.

Image

Foto: Rini Ganefa (Koleksi pribadi RG), Semarang

Continue reading

Advertisements

PUISI: KAU MEMASUKI JANTUNGKU

Oleh: HE. Benyamine

 

belantara mengasihiku, bebas

kau temukan aku

bagai pepohonan telah terbakar

langsung debarkan jantung

mengiringi ketiadaan hadirmu

tak ada tempat sembunyi

kau berdetak dalam sunyi juga hiruk

sungguh dekat, begitu lekat

 

selalu saja, kau hadir impian

tiada jarak sisakan sekat

lintasan waktu hapus kenangan

sungguh lekat, begitu hati pekat

 

matamu pencarianku pada pelangi

lorong mistis pacu gemuruh jiwa

daya angkuhku serupa perupa hilang visi

jantungmu, adakah gelisah?

badai mana mampu ganggu jantungku

tak beraturan berdegup

 

kau memasuki jantungku

belantara mengasihiku, kau bebas

sungguh damai, begitu dekat

tanganmu menggenggam yakin

tumbuh wangi harapan

mengalir menyusuri rindu

mendekap tak berhenti

 

Banjarbaru, 27 Januari 2014

11114G

KORUPSI DI MATA PUISI

Oleh: HE. Benyamine

 

Gagasan menghimpun puisi penyair Indonesia dalam sebuah buku Puisi Menolak Korupsi (2013) oleh Sosiawan Leak merupakan bentuk gerakan moral melalui puisi untuk menyatakan penolakan terhadap tindak korupsi di negeri ini yang semakin mencekik leher bangsa Indonesia. Beberapa puisi di dalamnya bernada satiris, seperti puisi Aloysius Slamet Widodo yang berjudul Namaku Korupsi,  yang menyatakan korupsi sebagai “karena aku budaya”.   Sebagai gerakan kultural, gerakan Puisi Menolak Korupsi merupakan wujud kegetiran dan respon kritis penyair atas keadaan masyarakat-bangsa Indonesia yang sedang sakit; bahkan sekarat. Ungkapan “karena aku budaya” dari korupsi menghunuskan kegetiran mengenai hancurnya sebuah kebudayaan yang bernama bangsa Indonesia. Hal ini diungkapkan Sumasno Hadi ketika menyampaikan pengantar bahan diskusi dengan judul Anti Korupsi di Mata Puisi: Panglima Lumpuh, Prajurit Mengeluh, Penyair Bergermuruh dalam Diskusi Sastra Malam Sabtu, 7 Juni 2013, dengan topik Korupsi di Mata Puisi di Aula Perpustakaan dan Arsip Daerah (Pustarda) Kota Banjarbaru.

Continue reading

PUISI: KEKASIH (7)

Sejak kau menemu hatiku malu, rindu menetap

Bebas hadirmu bagai pelukis menemu kanvas

Tiada harap seperti pelangi menanti henti hujan

Senyum itu

Kau hembuskan pada angin, menyapa

 

O Kekasih

Kau hadir bagai hujan terbebas kungkungan awan

Lapang bagai kecupan embun sambut mentari

Melayang, menyapa

 

Banjarbaru, 27 Januari 2013

ISU KELANGKAAN BBM MENYESATKAN

Oleh: HE. Benyamine

Keprihatinan Forum Peduli Banua dengan kondisi “kelangkaan” BBM di Kalimantan Selatan (6/4/13: 9), yang tahun 2012 melakukan gerakan pemblokiran tongkang batu bara, perlu mendapat apresiasi yang positif, namun memprihatinkan pada dasar yang menjadi persoalan BBM ini.

Continue reading

TAMAN KOTA

Cerpen: HE. Benyamine

Saat aku memilih tinggal di kota ini, alasan utamanya karena tidak ada orang yang kukenal. Juga sebaliknya, tidak ada yang mengenal diriku.  Aku menemukan kebebasan  di kota ini. Aku dapat bertegur sapa dengan siapa saja. Di mana saja dengan mudah senyum mengembang. Tanpa prasangka. Ada yang acuh tak acuh. Terkadang ada saja ketemu orang yang mengatakan bahwa rasa-rasanya pernah bertemu dengan diriku. Begitu juga dengan pengemis yang berkeliaran di kota ini, mereka melihat diriku seakan sudah sangat dekat dan akrab, yang langsung saja menyudurkan tagihan dengan tangannya. Ah, kota ini melepaskan diriku, memandang orang dari sisi pikiran positif. Sendiri dalam keramaian.

Continue reading

TINDAKAN DARURAT UNTUK SDN BANJARBARU UTARA 7

Oleh: HE. Benyamine

Kebakaran SDN Banjarbaru Utara 7 pada tanggal 11 Oktober 2012 merupakan bencana, yang seharusnya mendapatkan prioritas tindakan pasca kebakaran sebagai bagian tanggap darurat Kota Banjarbaru. Namun hingga saat ini, bangunan dengan pagar lambang dinas pendidikan, sebagaimana yang terlihat pada foto account facebook Banjarbaru Dalam Lensa (26 November 2012), masih dibiarkan sebagai saksi bisu kebakaran tersebut. Tidak ada tindakan cepat Pemkot Banjarbaru sebagai bagian dari mendahulukan wajib belajar 9 tahun, atau reaksi cepat betapa pentingnya sekolah bagi kota ini.

Foto: Banjarbaru Dalam Lensa

Foto: Banjarbaru Dalam Lensa 

Melihat foto Banjarbaru Dalam Lensa tersebut, ada rasa yang menyesakkan saat melihat foto para petinggi Kota Banjarbaru sedang berada di Belanda dengan label “sekolah”, sehingga terbayang murid-murid SDN Banjarbaru Utara 7 tetap sekolah di tempat lain, karena sekolah mereka masih dibiarkan saja. Para petinggi tersebut, Walikota Banjarbaru, Sekdakot, dan Ketua DPRD Kota Banjarbaru, terlihat begitu riang dapat “sekolah” di Belanda, meski hanya untuk waktu 14 hari. Sementara, murid-murid yang bangunan sekolahnya terbakar, tetap riang dengan jadwal yang disesuaikan, karena sekolah mereka sudah hampir 2 bulan dibiarkan saja.

Setelah kebakaran SDN Banjarbaru Utara 7, kota Banjarbaru seakan sedang mengalami “serangan api” terhadap sekolah-sekolah yang ada. Penyebabnya tidak diketahui. Ada SDN Banjarbaru Utara 2, yang dua gedungnya ludes dilahap api. Ada kebakaran kecil SDN Banjarbaru Utara 1, lalu kebakaran kecil di SMAN I Banjarbaru. Hal ini harus mendapatkan tindakan yang cepat dan prioritas. Kota Banjarbaru sepatutnya dapat melakukan tindakan yang peduli terhadap kasus kebakaran sekolah ini, tidak membiarkan bangunan sekolah menunggu tahun anggaran berikutnya.

Continue reading