MELESTARIKAN KESENIAN TRADISIONAL BANJAR

Oleh: HE. Benyamine

Kesenian tradisional sudah ada yang dianggap hilang, atau paling tidak sudah sulit menemukan seniman yang masih menggelutinya, sehingga banyak seni tradisional tersebut yang tidak begitu dikenal lagi oleh generasi berikutnya. Berbagai pihak telah mengingatkan bahwa seni tradisional terancam punah, salah satunya karena pemerintah daerah tidak mempunyai perhatian dan tergerak untuk memberikan fasilitas dan dukungan yang memadai, apalagi mengangkat harkat dan martabat para seniman tradisional tersebut. Betapa sulitnya membayangkan Madihin, Mamanda, Lamut, Wayang Gong, tari Tirik, Bagandut, Babasingaan, Bajapin, Manopeng (tarian topeng), dan masih banyak bentuk kesenian lainnya, yang seharusnya mendapatkan panggung untuk tidak hanya sekedar membayangkan sesuatu seni yang tidak dipertunjukkan. Continue reading

Advertisements

BUDAYA BANJAR TERSEMBUNYI DI MUSEUM

Oleh: HE. Benyamine

Budaya Banjar adalah bagian masa lalu dan telah menjadi sejarah daerah ini. Pernyataan yang tidak seharusnya benar-benar terjadi, ataupun meskipun baru menuju ke arah itu. Manusia Banjar masih ada, namun mempunyai kecenderungan sudah hidup dalam budaya baru. Mereka masih mengaku dan memang orang Banjar, tapi tidak kenal lagi tatacara kehidupan sebagaimana budaya orang tuanya, yang mungkin juga karena orang tuanya sudah hidup dalam budaya baru tersebut. Orang Banjar yang lahir di banua bisa dikatakan sama saja dengan orang Banjar yang lahir dan besar di luar daerah, telah sama orientasi budayanya.

Perubahan yang berlangsung lebih cenderung meninggalkan budaya Banjar, yang secara cepat telah mengarahkan manusia Banjar terus terseret budaya baru yang serba cepat dan instan, yang sebagiannya tidak dapat direnungi dan disadari seakan tidak terjadi perubahan dalam budaya. Perubahan ini sangat dipengaruhi oleh begitu banyaknya sumberdaya alam yang secara ekonomi bernilai tinggi yang tersedia, walaupun hanya dalam bentuk bahan mentah tetap menggiurkan secara ekonomi, sehingga memberikan peluang dan kesempatan untuk eksploitasi secara besar-besaran yang tentunya tidak mempunyai ketergantungan dengan budaya setempat (Banjar), karena tidak diperlukan daya cipta dan karya, hanya bahan mentah yang di ekspor, selain kecuali hanya bernilai ekonomi. Continue reading

BUDAYA BANJAR: LANTING TAIKAT, BUDAYA HANYUT

Oleh: HE. Benyamine

Sungai merupakan pusat kebudayaan masyarakat Banjar, terutama saat terbentuknya sebagian besar kota di Kalimantan Selatan khususnya, dan Kalimantan pada umumnya. Beberapa sungai di Kalimantan Selatan memang tetap eksis, tapi ibarat pakaian sudah terlihat kusam dan ketinggalan zaman serta terlihat tidak pernah dibersihkan.

Pusat kebudayaan masyarakat Banjar sudah berpindah ke daratan, dengan semakin tersedianya transportasi jalan. Pengetahuan masyarakat Banjar juga sudah mengalami perubahan, yang jelas perubahan tersebut sudah menjauh dari pola pikir sungai. Perubahan itu ditunjang oleh perkembangan teknologi informasi, yang membawa berbagai budaya baru dan instan, yang bahkan sampai ke ruang tempat tidur, seperti TV.

Perubahan dalam pola pikir akan mempengaruhi dalam sikap dan perilaku. Perubahan tersebut sudah mengantarkan masyarakat Banjar masuk menjadi bagian dari gemerlapnya globalisasi, namun yang nampak lebih banyak sebagai bagian yang rentan terhadap dampak negatif, karena masih berada dalam gerbong konsumen. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya memperhatikan sungai, dapat dikatakan merupakan suatu usaha yang mengingatkan dan memberikan penyadaran bahwa sebagian budaya Banjar sudah mulai menghilang dari kehidupan masyarakat Banjar, bahkan sudah sebagian besar dari kita sudah melupakan makna dan arti keberadaan sungai sebagai suatu wahana tempat terjadinya proses budaya berlangsung, yang melahirkan budaya sesuai dengan sistem ekologi setempat.

Continue reading

BUDAYA BANJAR: PERLU TAFSIRAN KREATIF DAN ADAPTIF

Oleh: HE. Benyamine

Eksploitasi sumberdaya alam Kalimantan lebih cepat dari perubahan kebudayaan adaptif. Kebudayaan material mengalami perubahan sangat cepat. Perubahan tersebut menyebabkan ketidakharmonisan di antara unsur-unsur kebudayaan.

Perubahan salah satu unsur kebudayaan memerlukan penyesuaian unsur yang lain. Sumberdaya hutan sudah mulai langka, sementara kebudayaan adaptif belum terlihat. Pertambangan batu bara lebih mempercepat terjadinya perubahan kebudayaan material tersebut, di mana-mana perubahan bentang alam terlihat dengan kasat mata dalam skala yang sangat luas.

Continue reading