FESTIVAL MURAKATA I: Sastra dan Seni yang Menggembirakan

Oleh: HE. Benyamine

Rimbun dengan pepohonan seakan memberi suasana puitis pada suatu tempat, bagai senandung yang menyatu dengan acara Lomba dan Pagelaran Seni Budaya Festival Murakata I (15 -17/8/2014), begitulah lapangan Dwi Warna Barabai dan sekitarnya. Lomba yang diperuntukan bagi pelajar se-Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini dengan tema Menampi Paung Sastra di Bumi Murakata Melanggat Jejak Juang Pahlawan Kemerdekaan Lewat Ekspresi Kembara Jiwa Mengembalikan Barabai Parisj van Borneo, merupakan festival yang terselenggara karena adanya berbagai kegiatan sastra dan seni sebelumnya; rutinitas, instens, dan partisipatif.

 

Continue reading

Advertisements

KONTROVERSI PATUNG BEKANTAN

Oleh: HE. Benyamine

Dukungan Lembaga Budaya Banjar (LBB) Kalsel, yang dikatakan sebagai hasil pertemuan (1/10/10) dengan para seniman dan budayawan, dengan hasil pertemuan yang menyatakan setuju dan mendukung sepenuhnya rencana pembangunan patung bekantan (Nasalis Lavartus) sebagai satu di antara ikon kota berjuluk seribu sungai (Media Kalimantan, 3 November 2010: B5) menarik untuk diperhatikan karena alasan yang dikemukakan masih memiliki nilai seni dan budaya yang terlihat hanya dipermukaan serta adanya anggapan bahwa hewan bekantan tersebut merupakan hewan asli Kalsel.

Continue reading

MELESTARIKAN KESENIAN TRADISIONAL BANJAR

Oleh: HE. Benyamine

Kesenian tradisional sudah ada yang dianggap hilang, atau paling tidak sudah sulit menemukan seniman yang masih menggelutinya, sehingga banyak seni tradisional tersebut yang tidak begitu dikenal lagi oleh generasi berikutnya. Berbagai pihak telah mengingatkan bahwa seni tradisional terancam punah, salah satunya karena pemerintah daerah tidak mempunyai perhatian dan tergerak untuk memberikan fasilitas dan dukungan yang memadai, apalagi mengangkat harkat dan martabat para seniman tradisional tersebut. Betapa sulitnya membayangkan Madihin, Mamanda, Lamut, Wayang Gong, tari Tirik, Bagandut, Babasingaan, Bajapin, Manopeng (tarian topeng), dan masih banyak bentuk kesenian lainnya, yang seharusnya mendapatkan panggung untuk tidak hanya sekedar membayangkan sesuatu seni yang tidak dipertunjukkan. Continue reading

SASTRAWAN MENIKAM DIRINYA SENDIRI

Oleh: HE. Benyamine

Dunia sastra dan seni dipandang sebagai dunia yang sepi dan sunyi, karena adanya pendapat bahwa politik tidak layak mengotori keindahan kata-kata sastrawan dan merusak gerak laku seniman, sehingga terlalu banyak karya sastra atau seni seperti hilang tertiup angin. Dunia sastra dan seni terlepas dari kehidupan hiruk pikuknya politik, yang membuat karya sastra atau seni tidak menjadi bagian dari warna kehidupan itu sendiri, yang hanya hadir dalam lingkungan terbatas dan berbatas. Bahkan, terkesan sastrawan atau seniman berpolitik dalam kelompok atau lingkarannya sendiri, bebas dari dunia nyata. Continue reading