Aku sekilas melirik. Aku merasa ada yang aneh, seakan mengusik rasa ingin tahuku, dan aku tidak lagi melirik, malah langsung menatap ke arah rak-rak buku yang tadi sudah terlewatkan. Benar! Pistol itu mengarah kepadaku. Aku yakin jika tidak mungkin pistol itu meletus saat ada di belakangku. Apakah aku linglung*), ada yang menodongkan pistol dan aku malah tertawa, aku “Mengerti kalau hidup cuma sekali/Mengerti kalau sesudah tikungan itu/mungkin garis akhir duduk menanti/kita pura-pura tak kenal/berpikir mungkin ada yang tertinggal/dan berancang-ancang mengambilnya kembali”, dan ternyata aku “Terlambat. Musiknya sudah dimainkan/Riang, cepat, satir”.
Filed under: PUISI | Tagged: Banjarbaru, HE. Benyamine, Kumpulan Puisi, M. Nahdiansyah Abdi, Pistol Air | Leave a Comment »

