Bagaimana mungkin buku itu mengajakku bermeditasi? Dengan rindu pula ia suguhkan seperti tahu apa yang sedang bergemuruh di dalam dadaku. Aku tidak punya pilihan lain, buku itu mengajakku mengunyah-ngunyah juga membolak-balik dalam pikiran, memikirkan, dan merenungkan; dengan sadar aku mulai duduk bersama buku itu dan memulai menjelajah cakrawala; kata yang sering disebutkan sebagai kata yang tak terjangkau luasannya. Lalu aku dituntun merasakan jalan-jalan sunyi yang tidak sebersitpun meniadakan diri dalam keterasingan. Jalan-jalan sunyi yang begitu bergemuruh dengan cinta dan keyakinan.
Filed under: TERTULIS | Tagged: Banjarmasin, HE. Benyamine, Kalimatan Selatan, Micky Hidayat, PUISI | Leave a Comment »

