PISTOL AIR

Aku sekilas melirik. Aku merasa ada yang aneh, seakan mengusik rasa ingin tahuku, dan aku tidak lagi melirik, malah langsung menatap ke arah rak-rak buku yang tadi sudah terlewatkan. Benar! Pistol itu mengarah kepadaku. Aku yakin jika tidak mungkin pistol itu meletus saat ada di belakangku. Apakah aku linglung*), ada yang menodongkan pistol dan aku malah tertawa, aku “Mengerti kalau hidup cuma sekali/Mengerti kalau sesudah tikungan itu/mungkin garis akhir duduk menanti/kita pura-pura tak kenal/berpikir mungkin ada yang tertinggal/dan berancang-ancang mengambilnya kembali”, dan ternyata aku “Terlambat. Musiknya sudah dimainkan/Riang, cepat, satir”.

Read more »

PUISI (44): KEKASIH HATI

Menatap wajahmu, sekilas cermin hatiku bening

Hilang kata pemuja dalam dadaku, kau tersenyum

 

Menatap kembali senyummu, jantungku tak berdetak

Hilang panas dalam tubuhku, wajahmu berhias sepasang telaga

 

Menatap binar sepasang telagamu, jiwaku terbang bebas

Hilang segala rasa duniaku, kau menantap sedekat batinku

 

Kau tersenyum, tiada gemuruh purba memacu gumpalan darah

Aku sadar menghilang, kaulah kekasih hatiku

 

Banjarbaru, 7 Januari 2012

MEDITASI RINDU

Bagaimana mungkin buku itu mengajakku bermeditasi? Dengan rindu pula ia suguhkan seperti tahu apa yang sedang bergemuruh di dalam dadaku. Aku tidak punya pilihan lain, buku itu mengajakku mengunyah-ngunyah juga membolak-balik dalam pikiran, memikirkan, dan merenungkan; dengan sadar aku mulai duduk bersama buku itu dan memulai menjelajah cakrawala; kata yang sering disebutkan sebagai kata yang tak terjangkau luasannya. Lalu aku dituntun merasakan jalan-jalan sunyi yang tidak sebersitpun meniadakan diri dalam keterasingan. Jalan-jalan sunyi yang begitu bergemuruh dengan cinta dan keyakinan.

Read more »

PUISI (43): TERIAKLAH SEKUAT YANG KAU SIMPAN

Teriaklah sekuat yang kau simpan, mungkin

berasal dari darah moyang yang hingga mengaliri kau

mengapa tetap bisu bersama petasan yang melepaskan kungkungan

geramkah kau dengan merobek telinga malam, dan

menaburkan percikan warna api di muka malam

sedang malam tetap menjamu bulan bintang.

 

Teriaklah sekuat yang kau simpan, mungkin

dari gumpalan-gumpalan nafsu yang tertahan   

bersama bunyi-bunyian yang memancar indah

setelah menghancurkan diri lalu bebas bertebaran

diam pendam dendam masa lalu yang menggenggam

tak hilang meski kau samarkan malam dengan kegaduhan.

 

Banjarbaru, 22 Agustus 2011

KEHIDUPAN MENJADI SEMPURNA DENGAN SASTRA (Pengukuhan Komunitas Sastra (KSI) Batola

Oleh: HE. Benyamine

 

Sastra mampu menggambarkan peristiwa dengan sempurna, menjadi sempurna, dan menyentuh diri secara sempurna. Melalui sastra, kehidupan ini lebih dapat dinikmati dengan menghadirkan pemaknaan yang mengarah pada penemuan hikmah pada setiap peristiwanya. Berbicara  tentang sastra, begitulah bupati Kabupaten Barito Kuala, H. Hasanuddin Murad, SH., pada acara pengukuhan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Barito Kuala dan Pagelaran Sastra (26 Desember 2011: 20.00) di Panggung Terbuka yang menghadap sungai Barito.

Ungkapan bupati tersebut menunjukkan suatu pemahaman yang luar biasa atas sastra, meski beliau mengaku tidak begitu mengerti dengan sastra, yang memberikan harapan dan spirit pada pertumbuhan dan perkembangan sastra di Batola khususnya. Apa yang dikatakan bupati itu, mungkin dipengaruhi masa kecil beliau, yang memang hidup dengan kegembiraan sastra lisan sebagaimana masa kecil sebagian anak semasa beliau, karena masih sering terdengar senandung syair dan pantun juga bentuk sastra lisan lainnya.

Read more »

PUISI (42): CAHAYA KERINDUAN

Seberapa dekat kau lepaskan hatimu

segala arah yang teraih, samar yang merekah.

 

Mengelana ikuti jejak, terasa tapak watak bergerak 

berulang memungut waktu

tumpah kembali tak bertanda   

lalu nikmat hilang di persimpangan.

 

Seberapa dekat kau lepaskan hatimu

hingga genggaman tersisa hanya cahaya kerinduan.

 

Banjarbaru, 11 Agustus 2011

TAMAN ZAFRY ZAMZAM

Oleh: HE. Benyamine

“Mengapa kota Banjarbaru yang mampu membangun tugu dengan anggaran  “wah” atau kota Banjarmasin yang mampu menancapkan pintu gerbang juga “wah” dananya, atau kota Kandangan yang sedang membangun tugu yang menyesakkan bundaran yang ada dengan biaya “wah” tentunya, tetapi tidak ada gedung pertunjukkan yang representatif untuk kegiatan dan aktivitas yang mendorong pembangunan peradaban? Apakah kota Banjarbaru, misalnya, berani memilih untuk membangun gedung kesenian yang “wah” sebagaimana kemampuannya membangun Tugu Simpang Empat?”

“Penghargaan terhadap satu tokoh kota Banjarbaru, dengan berbagai hal berikut yang melekat pada beliau, yakni: sebagai ulama, pendidik (rektor IAIN Antasari), birokrat (kepala penerangan), budayawan, sastrawan (puisi dan prosa), dan pejuang, dengan bangga memberikan nama gedung kesenian bergengsi tersebut dengan mengabadikan nama beliau; Taman Zafri Zamzam, taman kebudayaan layaknya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.”

 

Pagelaran teater Dewan Kesenian Kota Banjarbaru dengan didukung Museum Lambung Mangkurat (19/11/11) yang diselenggarakan di Auditurium Museum Lambung Mangkurat menyuguhkan pertunjukkan yang menarik dan bermakna. Pada pagelaran ini dipentaskan dua naskah, karena satu naskah batal, yaitu: (1) Arwah-Arwah karya W.B. Yeats terjemahan Suyatna Anirun dan (2) Tangis Napi Pembunuh karya Luki Safriana. Kedua naskah dipentaskan dengan cukup baik dan apik, dan pagelaran teater seperti ini telah mampu menjadi hiburan alternatif yang lebih mendidik dan sebenarnya bergengsi.

Read more »

CEMPAKA KEHILANGAN LAPANGAN BOLA

Oleh: HE. Benyamine

Warga Cempaka termasuk mania bola. Di Cempaka terdapat banyak club bola, hampir tiap rukun tetangga ada club bolanya. Pertandingan antar club atau mengundang club luar Cempaka sebagai lawan tanding merupakan hiburan yang bermakna bagi warga Cempaka. Sebelum lapangan bola yang biasa digunakan untuk pertandingan atau sekedar latihan dirubah menjadi pasar Cempaka, warga begitu antusias berduyun-duyun menyaksikan pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan di lapangan bola tersebut. Setelah lapangan bola menjadi pasar Cempaka, warga seperti kehilangan ruang public sebagai tempat bergembira dan bermain sekaligus hiburan, baik saat menyaksikan pertandingan bola maupun acara atau aktivitas lainnya. Saat ini warga mempergunakan lapangan bola TNI AD untuk pertandingan atau sekedar latihan, yang tentu harus membayar sewa setiap pemakaian lapangan bola, yang memang tidak seberapa bagi warga dibandingkan kegembiraan dan hiburan dari pertandingan bola tersebut atau menjadi ajang berkumpulnya warga.

Read more »

BERUANG MADU DAN WARGA DESA KIRAM YANG TERANCAM

Oleh: HE. Benyamine

Warga Desa Kiram Kabupaten Banjar sedang dihadapkan pada beberapa ancaman, yang diantaranya telah mendapat liputan pemberitaan koran. Ancaman itu sebagaimana yang dikemukakan Pembkal Desa Kiram, “Tolong kepada pak Kapolda Kalsel, pak Kapolres Banjar, kami ini sudah was-was dengan beruang yang hingga kini masih berkeliaran. Ditambah ramainya pencurian kayu di kiram atas. Tolong alam kami jangan dirusak” (5/8/2011). Ada dua ancaman yang tersirat; beruang madu (Helarctos malayanus) dan perambah hutan, yang membaut warga menjadi was-was kehidupannya akibat kerusakan alam dan lingkungan mereka. Kedua ancaman tersebut juga dapat dilihat sebagai satu bagian dari telah terjadinya gangguan pada hutan di wilayah Desa Kiram dan sekitarnya.

Read more »

MEMBAYANGKAN MALUNYA WALIKOTA

Oleh: HE. Benyamine

Melewati kota Banjarbaru selalu terbayang bagaimana serius dan sungguh-sungguhnya Pemko Banjarbaru dalam menata dan merawat lingkungan kotanya. Seakan ada perbedaan yang mencolok dengan kota sebelumnya, terutama setelah memasuki kawasan Simpang Empat dan berlanjut melalui Jl. A. Yani hingga kawasan Ulin, begitu juga ketika memasuki kawasan Jl. Panglima Batur, yang memperlihatkan kota yang ramah lingkungan dengan rimbunnya pepohonan dan tersedianya fasilitas pejalan kaki yang tidak terhalang dengan pot-pot tanaman hias.

Kawasan kota terlihat bersih, rapi, dan indah dengan tanaman hias yang terawat. Taman-taman kota yang terawat dan tertata rapi menunjukkan pandangan pengambil kebijakan dalam menata kota. Bunga-bunga yang berwarna-warni menambah indahnya kawasan kota. Apalagi seperti bulan September, di mana pohon flamboyan, bungur, dan tanaman pohon besar yang berbunga sedang berbunga, semakin menambah keindahan dan memberikan kesan yang ceria. Memang, sebagian pohon-pohon bunga tersebut sudah banyak yang hilang dan tidak ada peremajaan kembali.

Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.