BANJARBARU BONGKAR SEJARAH KOTANYA


Oleh: HE. Benyamine

Banjarbaru telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, lahan-lahan yang ada sudah mulai terpancang berbagai bentuk bangunan. Di jalan-jalan utamanya, sudah banyak bangunan ruko, yang seperti benteng memagari jalan-jalan tersebut. Ibaratnya, sedang berusaha untuk disandingkan dengan tembok China, jika dideretkan ruko-ruko tersebut.

Beberapa tempat dan bangunan serta benda yang dapat dikatakan sebagai sesuatu yang bernilai untuk menjadi rekam jejak kota Banjarbaru sudah ada yang berubah dan sebagiannya hilang tergantikan oleh bangunan baru yang benar-benar menghilangkan wujud peninggalan yang bernilai sejarah.

Kincir Angin Comet diperlakukan sebagai besi tua, diserahkan pada pemulung untuk membongkarnya. Sumber foto: http://loeweng08.wordpress.com

Kincir Angin Comet diperlakukan sebagai besi tua, diserahkan pada pemulung untuk membongkarnya. Sumber foto: http://loeweng08.wordpress.com

Pada tahun 2008, warga Banjarbaru, khususnya yang tinggal disekitar Comet, menjadi saksi terbaru bagaimana kita memperlakukan benda yang bersejarah bagi kota ini, di mana Kincir Angin Comet yang merupakan salah satu ikon kota dibongkar begitu saja dengan ringan tangan, karena alasan dapat membahayakan warga di sekitar.

Pembongkaran Comet diserahkan kepada pemulung, yang seakan menunjukkan bahwa Comet tersebut hanya dianggap tidak lebih dari besi tua, tanpa memikirkan nilai sejarahnya dan arti penting bagi rekam jejak kota Banjarbaru.

Pemerintah kota sendiri terkesan tidak peduli dengan keberadaan Comet tersebut, sehingga memberikan peluang kepada warga untuk menilai sendiri atas benda tersebut, yang bagi sebagian orang terlihat hanya sebagai besi tua yang dapat membahayakan keselamatan warga sekitar.

Mengapa Pemko begitu tidak peduli dengan benda bersejarah tersebut? Atau, jangan-jangan Pemko Banjarbaru mempunyai pandangan yang sama terhadap Comet tersebut, hanya besi tua tidak lebih dari itu. Lalu, pandangan ini juga berlaku dengan benda-benda bersejarah lainnya, dianggap tidak mempunyai manfaat dan tidak berharga.

Saat ini memang sudah berdiri kembali Kincir Angin, yang sudah dikerdilkan, dan memperlihatkan suatu sikap menganggap remeh benda bersejarah. Hal ini sebenarnya memperlihatkan suatu sikap kerdil dan tidak sadar sejarah, dan Pemko tidak peduli dengan hal itu.

Pandangan Pemko Banjarbaru terhadap jejak sejarah kotanya ini sangat jelas terlihat saat membongkar Tugu Simpang Empat dengan lambang intannya, dan menggantikannya dengan desain yang berkesan glamour tapi membuat terasa sesak dan menghalangi pandangan dari masing-masing jurusan.

Tugu Simpang Empat Banjarbaru (Lama). Sumber:http://cozyrira89.wordpress.com

Tugu Simpang Empat Banjarbaru (Lama). Sumber:http://cozyrira89.wordpress.com

Padahal bundaran sebagai titik simpul jalan-jalan jelas mempunyai fungsi lalu lintas yang penting. Desain yang lama, sebenarnya menyesuaikan dengan fungsinya, memang berkesan sebagai lambang Kabupaten Banjar, tapi itulah sejarahnya.

Tugu Simpang Empat yang belum selesai saja sudah sangat menghalangi pandangan lalu lintas, karena memang tidak tepat dengan desain saat ini. Mungkin, saat mendesain tugu yang sekarang (masih mangkrak), perencananya tidak memintakan pendapat kepada polisi lalu lintas bagaimana layak fungsinya suatu tugu di bundaran sebagai titik temu jalan.

Tugu Simpang Empat Banjarbaru (Baru masih mangkrak). Sumber Foto: http://cozyrira89.wordpress.com

Tugu Simpang Empat Banjarbaru (Baru masih mangkrak). Sumber Foto: http://cozyrira89.wordpress.com

Di samping menghilangkan nilai sejarah Tugu Simpang Empat, Pemko Banjarbaru juga terlihat seperti kehilangan orientasi dalam perencanaan kota, sehingga pengerjaannya lebih cenderung untuk kepentingan proyek dan asal bangun, dan yang cenderung menghilangkan nilai sejarahnya.

Ada beberapa rekam jejak sejarah Kota Banjarbaru yang sebagian mulai menghilang dan berubah fungsinya. Dalam hal gedung, ambil contoh Bina Satria, yang dulunya menjadi pusat kegiatan kepemudaan yang digerakkan Ikatan Pemuda Banjar Baru (IPBB), seakan tidak dapat dipertahankan sebagai gedung pemuda. Malah saat ini sudah digunakan untuk kepentingan lain, yang tidak begitu berhubungan dengan kepemudaan.  Seharusnya gedung ini dapat dipertahankan untuk pusat kegiatan kepemudaan dan juga bernilai sejarah.

Begitu juga dengan Proyek Besi Baja sekitar tahun 1960-an, yang merupakan PMA dari Rusia, yang saat ini sudah berubah menjadi perumahan dan pertokoan. Kota Tarakan saja bisa mempertahankan kilang minyak tua, malah ada yang bekas kena bom, untuk menjadi benda bersejarah dan tetap ada hingga saat ini. Mengapa Kota Banjarbaru membiarkan ini terjadi?

Proyek Besi Baja ini, juga menyisakan Mess L, yang dulunya menjadi tempat tinggal orang-orang Rusia; sering diadakan pesta dansa, tapi sekarang entah bagaimana kondisinya.

Bangkai Heli Rusia di Taman Karang Taruna, sekarang kolam Renang Idaman Banjarbaru. Sumber Foto: http://cozyrira89.wordpress.com

Bangkai Heli Rusia di Taman Karang Taruna, sekarang kolam Renang Idaman Banjarbaru. Sumber Foto: http://cozyrira89.wordpress.com

Beberapa peninggalan proyek ini, juga ikut menghilang, seperti bangkai helikopter yang dulunya ada di lokasi kolam renang Idaman dan di SMK YPK Banjarbaru.

Di samping itu, di Lokatabat pernah berdiri pabrik paku, yang saat ini juga sudah tidak jelas jejaknya. Pada saat itu, pabrik paku ini cukup terkenal di Kalsel. Ada suatu pesan, bahwa kota ini pernah melakukan suatu kerja produktif dan mempunyai kemampuan untuk membuat paku sendiri, untuk memenuhi kebutuhan daerah.

Adapun yang sudah mulai berubah fungsinya, Taman Karang Taruna, yang saat ini sudah mulai padat dengan berbagai bangunan, seperti dibangunnya Kolam Renang Idaman, Rumah Dinas Wakil Walikota, Kantor Kelurahan, dan Kantor PKK Banjarbaru, yang telah menjadikan lokasi ini begitu sesak dan tak beraturan.  Dalam hal ini, setidaknya Pemko Banjarbaru telah mengurangi ruang terbuka hijau, yang sebenarnya juga bernilai sejarah.

Pohon Flamboyan yang memberi warna Taman Karang Taruna, sudah mulai berkurang, begitu juga pohon Bungur dengan bunga ungu.

Pohon Flamboyan yang memberi warna Taman Karang Taruna, sudah mulai berkurang, begitu juga pohon Bungur dengan bunga ungu.

Ini perlu dipertanyakan kepada Pemko, karena dinas terkait tentu sudah paham betul mengenai ruang terbuka hijau, kecuali tutup mata dan telinga.

Beberapa lokasi di Banjarbaru masih menyisakan kenangan bagi pemuda saat itu, seperti Taman Bacaan Gembira yang digagas Abdul Kadir Munsi di depan Hotel Banjarbaru. Saat ini memang ada di rumah warga dengan nama Taman Bacaan MGR, yang perlu mendapatkan apresiasi karena setidaknya masih mengingatkan keberadaan taman bacaan saat itu.

Oleh karena itu, perlu adanya kepedulian bersama terhadap benda-benda bersejarah, untuk tidak membiarkan semakin banyak yang hilang dan berubah fungsi. Kita perlu tetap ingat, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, dan Kota Banjarbaru tidak ada secara tiba-tiba tapi mempunyai sejarah yang patut dihargai.

Pemko Banjarbaru tidak bisa dibiarkan saja membiarkan peninggalan yang bersejarah bagi kota ini berubah fungsi dan menghilang. Kesadaran sejarah perlu dibangun untuk memberikan suatu penerang dalam melanjutkan pembangunan kota ini.

Bila Pemko masih tidak sadar sejarah tentang kota Banjarbaru, dan terus mengabaikannya, maka tidak ada yang dapat diharapkan pada elit yang tahunya membongkar, membongkar, dan membongkar sejarahnya sendiri. Warga Banjarbaru jangan berdiam diri, karena membongkar sesuatu yang bersejarah sama saja mengubur sejarah Banjarbaru, sejarah warga sendiri.

20 Responses

  1. Assalaamu’alaikum

    terima kasih kerana memaparkan photo-photo tentang keadaan di banjarbaru. Jika ada peluang, saya akan ke sana juga satu hari nanti…mahu lihat banjarbaru dan banjarmasin seperti yang diwar-warkan. kerana melihat melalui gambar tidak akan sama melihat dengan mata sendiri.

    sejarah amat pentng buat kita. dengan sejarah kita dapat hidup dengan megah dan menjunjung masa depan yang lebih gemilang. sejarah hanya lakaran yang menjadikan kita kuat, tabah agar ia tidak berulang lagi jika sejarah itu amat pahit untuk ditelan. membongkar sejarah adalah satu kebaikan sebagai tanda teladan dan pengajaran buat generasi akan datang mengambil sempadannya.

    salam mesra selalu dari UKM.

    HEB : Semoga peluang terbuka bagi SFA untuk berkunjung ke Kalsel. Mesra selalu dalam salam yang hangat.

  2. Ya ya ya /// dijadiin bagian novel he he

    HEB : Dalam kenangan ya Pak …

  3. Benda sejarah adalah aset yang sangat berharga. Dan sudah sepatutnya mendapat perhatian serius dalam hal perawatan dan pelestarian.

    HEB : Ya … setuju.

  4. Yaaach..begitulah kota Banjarbaru, sekarang siapa sich yang bisa menjadi pahlawan pembangunan? kalo bukan warganya sendiri..namun ini sebuah dilema..gimana mau mencintai kotanya kalau warga yang datang selalu silih berganti (mayoritas pendatang) tidak menetap, cuman bikin ktp/rumah doang (bagi yg berduit)..selanjutnya balik lagi kekampung/kotanya masing2…banjarbaru hanya sebuah kota persinggahan.dimana generasi jadul nya sudah pada musnah..dan ini adalah Tanggung Jawab sang owner city..harus bisa menata/ngepress para investor yang kian rame menggerogoti kota tercinta Banjarbaru…ayo pasang bemper yang bermakna bagi kota ini.

    HEB : Benar … berbuatlah yang bermakna bagi kota ini.

  5. wahh… saya ingat betul helikopter dengan tulisan CCCP di ekornya itu. yg saya dengar malah dilego kiloan, berhubung bahan bodinya yg menggiurkan kalau diolah lagi. Begitu juga kalau liat komet yg sekarang dan konon sebagai pengganti itu, sangat menggelikan.

    Saya sampai lupa sudah berapa kali Banjarbaru berganti rencana tata ruang.

    Pernah pada suatu waktu, saya berhenti di jalan hanya untuk menyaksikan sekelompok anak kecil main bola plastik dilapangan. saya terdiam, karena saya tau bahwa tak lama lagi lapangan itu juga akan diubah menjadi kawasan perumahan.
    😥

    HEB : Ya … memang mengerikan membayangkan keadaan, bila pengambil keputusan tidak peduli dengan hal-hal demikian.

  6. Yesssssss!! wisata lengkap. Asyik asyik..asyik….Sayangnya memang banyak diantara mereka yang tidak peduli dengan nilai sejarah. Akhirnya jejak keberadaan masa lalu apoapun bentuknya menjadi bias…menjadi blur bahkan tak keliatan lagi…..Nah bagaimana mungkin anak cucu bisa tahu tentang sejarah kotanya jika kondisinya dibiarkan seperti itu…???

    Saya yakin pak HE. Benyamine bisa jaga sejarah di sana, dan mengabadikannya untuk anak cucu.

    HEB : Ya … yang penting sudah disuarakan, dan semoga semua pemangku kepentingan mau menjaga secara bersama-sama.

  7. Ketinggalan…pak HE. Benyamine mau kan? di minta untuk Jagain semua sejarah yang ada di sana? hik hik hik …harus mau donk pak….kapan lagi kalau tidak di mulai dari sekarang pak? OK…peace ya…

    HEB : Ha ha ha … peace

  8. Nambah ah…pohon Flamboyannya kalo di foto lebih pagi pasti bagus tuh pak….itu terlalu siang jadi sinar mataharinya kebanyakan…..

    Terus menyebut nama flamboyan…jadi inget dengan group VolleyBall di kampung saya….asli pemain Volleyball wanita dengan nama itu… 🙂

    HEB : Foto itu satu diantara hasil yang banyak buram ha ha ha … terima kasih tips nya.

    Wah … cantik khan Flamboyan (pemain volleyball) … semoga kenangan manis ya Pakde.

  9. historia magistra vitae.
    sudah lama saya juga terusik dengan ketidakpedulian banyak kita terhadap peninggalan sejarah, mas benyamine. entah apa yang salah, seringkali kemajuan suatu daerah semata-mata dikaitkan dengan bangunan baru yang kontemporer dan canggih. padahal di banyak negara maju sendiri, bangunan-bangunan tua dan klasik justru dipreservasi dan dijadikan ciri sebuah daerah. bukankah perawatan dan pelestarian sejarah justru lebih menunjukkan keberadaban sebuah masyarakat, menandakan bahwa masyarakat itu betul-betul belajar dari masa lalu bangsanya?

    wallahu a’lam.

    HEB : Ya … bagi mereka yang pernah tinggal di negara maju, mungkin sangat merasakan hal itu dan menyaksikan bagaimana mereka memperlakukan bangunan-bangunan tua dan bernilai sejarah. Setidaknya dapat dilihat dari foto-foto bangunan tua yang ada di negara maju … seperti bangunan kampus dan lainnya.

  10. sekarang, kita masih dalam tahap membongkar-bongkar. mudahan nanti kita dapat memasangnya dalam susunan yang benar–seperti halnya mainan bongkar-pasang anakku yang sekarang terbengkalai, karena ada mainan “hanyar” yang lebih menarik.

    HEB : Kalau anak-anak ya maklum saja …. rasa ingin tahunya lebih penting dari mainannya ha ha ha … paling bapaknya yang repot ditagih mainan “hanyar”. Nah … nang tuha mangamudan mun kaitu.

  11. Oh … Banjarbaru….?!!

  12. waaaah dibongkar kh?dhulu sbelum uln lhir dh ad it comet,krn gsan mnrik banyu…

    lws dh kd thu kbrnya bnjarbaru…..

    slm hngat dr warga nang jauh…..

    HEB : Terima kasih telah berkunjung. Semoga melalui blog-blog yang ada, bisa terobati rasa rindu pada kampung yang lama ditinggalkan. Salam hangat yang sangat dekat.

  13. Banjarbaru .. oh .. Banjarbaru .. kota Pelajar… kota para pendatang dengan latar belakang suku ada di sana .. semoga walikota yang baru nanti mempunyai rasa kecintaan sejarah yang tinggi dan dapat membangun kembali kincir angin Comet seperti dulu yang merupakan Icon kota Banjarbaru. Semoga……

  14. bagi pemkot kan yg pnting ada proyek, ada duit….

  15. dulu helkopter di STM tu wdh ulun bemainan…comet gin rancak dinaiki…wayah ni tggl kenangan ja…jaka msh ada kawa jua bekisah wan anak kaina…

  16. aduh sayang banar lah….padahal itu bukan sekedar barang…tapi itu merupakan sejarah…benda yang bercerita tentang kotanya…hmmmm sedih ulun jadinya…mudah-mudahan generasi muda kita paham kalo menjaga budaya akan secara otomatis mendidik moral kita untuk jadi orang yang mencintai kearifan lokal daerahnya….

  17. Reblogged this on amrillmartapuraa.

  18. Terlalu bnyak sejarah yg terkubur,
    Terlalu bnyak kenangan yg terlupakan,
    rindu akan pemimpin yg cinta akan sejarah bumi tempat nya brpijak,
    ,,,,Masih bisakah kenangan it kta jadikan nyata,nyata ad,nyata bsa dnikmati,???

  19. […] 1 lampu merah kata Amed, tapi sudah jadi digital itu lanjutnya. Banjarbaru yang mungkin gemar membongkar sejarah kotanya, kata Pak Ben. Tapi jelas, Murjani itu tak pernah sepi kata […]

  20. Sedikit demi sedikit habis lalu banjarbaru…..tsisa TPU Guntung Lua ja lawan rumah makan Swarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: