DOA BANYU (AIR) MATA ABDURRAHMAN EL HUSAINI


Oleh: HE. Benyamine

Kesedihan, penyesalan, keharuan, keperihan, ketidakberdayaan, permohonan atau doa,  hingga kebahagiaan  mengalir melalui air mata. Terkadang banyu mata mengalir dengan sendirinya, kilir-kilaran teringat orang yang dirindukan, membasahi segala keinginan membara untuk menerima kenyataan yang dapat teraih. Air mata yang mengalir adalah kekuatan sekaligus kesadaran yang mampu melihat ke dalam diri sendiri, meskipun terlihat sebagai ketidakberdayaan. Mengalir hangat, mengalir perih, mengalir syahdu, dan mengalir sebagai kesadaran dan kekuatan yang terungkap dalam buku Doa Banyu Mata, Kumpulan Puisi Bahasa Banjar (Tahura Media, 2011) karya Abdurrahman El Husaini (AEH) yang pada tahun 2008 merupakan sosok yang menerima hadiah  Seni dari gubernur Kalimantan Selatan di bidang puisi.

Berbagai ungkapan banyu mata yang dialirkan AEH cenderung lembut dan syahdu, sekalipun itu tanggapan atas bencana yang menimpa kehidupan sekitarnya. Hal ini terlihat dalam beberapa puisi, seperti puisi Doa Banyu Mata  “kada karasaan banyu mata kilirkiliran” yang menggambarkan suasana perpisahan anak dengan orang tua untuk menuntut ilmu di luar daerah dengan memohon dibekali doa orang tua. Begitu juga pada puisi Sajak Anak Garing  dengan “Titisan banyu impus mamabawai oci bagayaan” dan “barubuyan lawan banyu mata kuitan” yang mengungkapkan kegetiran hati melihat anak sedang sakit dengan selang infus hingga lebih seminggu, yang terus dirangkai dengan “Abah wan mama malanjungi doa” sebagai bentuk kepasrahan dan ikhtiar yang seharusnya dilakukan. Pada puisi MadamAlaihai kilir-kiliran banyu mata” sebagai ungkapan membayangkan perilaku  saat bersama orang tua yang terkadang “Ada wani tasahuti nang kada mangaruan” yang teringat doa orang tua saat sendiri di banua urang. Juga pada puisi KarindanganBanyu mata lilih takabantal“ dan “Banyu mata lilih takapiring” yang lebih terlihat kesyahduan dan kelembutannya.

Banyu mata yang mengalir dengan tekanan batin terungkap dalam puisi-puisi sebagai tenggapan terhadap kerusakan alam dan lingkungan hidup, seperti dalam puisi Hampai JuakahBanyu mata kami larut dibawa baah ganal” di mana banyu mata dipadukan dengan baah ganal sebagai gambaran terjadinya kerusakan pada sungai. Pada puisi Tasanda Jua Banyu Mata NginiTasanda jua banyu mata ngini paampihannya” yang kemungkinan tidak berkesudahan akibat tergadai dari perambahan hutan, pertambangan, alih fungsi lahan sawah ke bangunan, sungai rusak dan tercemar, dan gunung-gunung diruntuhkan. Hal yang sama pada puisi Biar Ulun Saurangan Haja Gin Nang Manyandangnya Rinyutnya dengan menghadirkan isak ulin dan isak sungai, dan pada puisi Alaihai, Gunung didundang, Jantung Pangarang, Si Sandialayang yang seakan mengabarkan banyaknya tangis yang memilukan dengan ungkapan “Tangis kuciakan urang banyak mambulikakan ingatan andika” sebagai suatu kesadaran atas fenomena kerusakan alam dan lingkungan.

Sedangkan pada puisi Kahada Pacangan terlihat betapa AEH tidak mau kompromi dan menunjukkan keteguhan hatinya dengan “Biar dupanya tumatan  rajanya intah muyang kayu garu/Kada pacangan kuhurupakan lawan banyu mata nini kai padatuanku jua/Dalas bahangitan/Dalas bahabisan/Dalas bamatian” sebagai tanggapan pada hal-hal yang tampaknya hanya lahiriah saja, suatu pencintraan saja, yang tidak sesuai dengan yang di dalam, adanya kemunafikan yang berhadir. Dalam puisi Han(Buhan pian maka am barabut babagi karatan banyu mata dihulun)” sebagai perlawanan dengan sikap yang suka membicarakan keburukan orang lain saat berada di belakangnya.

Pada puisi BulikAbah bulik bagagasutan/Ujan banyu  mata kami sapadingsanakan” yang menunjukkan rasa kehilangan yang begitu dalam saat ayahnya menghadap sang Khalik, hujan yang menggambarkan tak terbendung, mengalir dari semua saudara. Di sini AEH mengalirkan banyu mata lebih deras, tidak hanya sekedar gerimis, leleh, atau kilir-kiliran, namun tetap menampilkan kesyahduannya. Juga pada puisi  Di  Bawah Kulung Langit TampurungHamba  tatangis basimpuh mamuhun ampun wan maaf” yang menunjukkan rasa penyesalan yang dalam dengan menyandingkan kata tangis dengan bersimpuh. Adapun pada puisi Babulik Kawayah Dahulu yang mengabil latar kisah Raden Panganten dan Diang Ingsun dengan bayangan Raden Panganten pada saat itu menyadari kedurhakaannya kepada ibunya sehingga tidak menjadi anak durhaka. Di sini Raden Pangaten “Banyu matanya bahulung sin nyaringan” dan  Diang Ingsun “Di dalam kubur banyu mata Diang Ingsun kilirkiliran bakuciak parau” yang memberikan pesan penyesalan datangnya selalu terlambat, tiada yang berubah meskipun banyu mata tumpah bagai samudera.

Kumpulan  puisi berbahasa Banjar yang ditulis AEH juga mengungkapkan berbagai perilaku manusia yang berhubungan dengan urang Banjar, keromantisan, persaudaraan, dan nasehat-nasehat dalam bergaulan. AEH cukup berhasil mengalirkan ungkapan-ungkapan yang merupakan bahasa Banjar sehari-hari dalam bentuk puisi sehingga terasa mengusik dan menggelitik karena merupakan bagian dari kehidupan sendiri, setidaknya begitu saat membaca kumpulan puisi ini.  Seperti dalam puisi Nyiur Gading yang menggambarkan perilaku Anang dan Galuh yang pada hakekatnya bungas luar dalam bagaikan nyiur gading yang bunganya digambarkan sebagai  “Dihurung anak wanyi tandanya harum/Hakikat di hati harum budi pakarti nang ampun  diri ampun tanaman” dan buahnya digambarkan “Maurak mayang mahambin buah/Hakikatakan hagan pangantin baranak babuah”.

Dalam kumpulan puisi berbahasa Banjar yang mengalir layaknya sungai-sungai ini juga terlihat pandangan AEH terhadap keberadaan puisi dan berkesenian, sebagaimana dalam puisi yang pendek SakalinyaSakalinya/Yatim piatu ngitu/Bangaran puisi” sebagai bentuk kesadaran untuk tidak ditelantarkan dan menjadi tanggung jawab bersama dalam menghidupkannya. Begitu juga terungkap pada puisi pendek BarikinUbui lahai/Haraga mutur trak wan kuda/Bilang  kurang labih haja lawan sasapu haduk” dan Monolog Bantat; yadi mariadi Asa/Tatahuri/Liur/Basi” yang merupakan ungkapan menghentak kesadaran untuk memperhatikan kesenian yang tidak diperhatikan proses dan jerih payah penggiatnya.

Bagaimanapun perubahan sosial, budaya, dan alam yang dialami dan terjadi di sekitar AEH masih tidak terlepas dari akar hidup, sebagaimana puisi yang ditujukan kepada Hamami Adaby, Sandi Firly, ASA, Agus, Syukur, Yadi dan Micky dengan judul Monolog Simpak  “Wadi papuyu/Garih haruan/Jaruk tigaron/Baras gunung/Barabut mancari liur nang hanta/Di piring-piring nini datu urang bahari/Nang hudah digantiakan lawan liur/Nang sikap saji sikap surung/Di warung-warung wayah ini/:Di hunjut banua masih haja kalu  mandingur baunya?”. Banyu mata boleh mengalir, karena ia dibutuhkan untuk kuat dan sadar dalam mengarungi kehidupan ini.

—————————————————

Abdurrahman El Husaini, lahir di Puruk Cahu Kalimanan Tengah 1 Januari 1965. Selain menulis puisi juga menulis essai sastra.Beberapa dari karyanya dipublikasikan di harian Dinamika Berita (sekarang Kalimantan Post), Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Sejumlah puisinya telah dibukukan dalam antalogi bersama, seperti Ragam Jejak Tsunami (Balai Bahasa Medan 2005), Taman Banjarbaru (2006), Seribu Sungai Paris Barantai ( 2006), Tarian  Cahaya di Bumi Sanggam (2008), Menyampir Bumi Leluhur (2010) dan Konser Kecemasan (2010). Menerima hadiah  Seni dari gubernur Kalimantan Selatan di bidang puisi (2008).

2 Responses

  1. nama ABDURRAHMAN EL HUSAINI pernah saya dengar, bang ben. puisi2nya kali ini berbahasa banjar, ya? wah, makin banyak puisi yang berwarna lokal makin bagus, meski harus ada terjemahannya juga. salam budaya.

  2. Wah, jadi penasaran membaca-baca karya-karya beliau. Makasih banyak ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: