NOVEL LAMPAU: LOKSADO YANG INDAH

Oleh: HE. Benyamine

“When knowledgeable old person dies, a whole library disappears”

Loksado merupakan tujuan wisata yang ada di Kalimantan Selatan. Wisata alam yang mempunyai daya tarik dari segi keindahan alam dan tradisi masyarakatnya. Jika menyebut bambu rafting, maka nama Loksado yang terlintas. Pengetahuan lokal sesungguhnya merupakan hal penting dalam kehidupan masyarakat yang berdiam di wilayah Loksado, yang menempatkan tokoh/orang tua pada tempat yang terhormat dan bernilai sebagaimana pepatah Afrika di atas.

Continue reading

Korban Bernama Kalimantan Selatan (Media Kalimantan, 30 Maret 2014: A5)

HE. Benyamine

Membayangkan Kalimantan Selatan sebagaimana puisi Kalimantan Selatan 2030 Kemudian karya Micky Hidayat (MH) dalam Antologi Sungai Kenangan (ASKS IX, Banjarmasin, 2012, hal. 100 – 101) terasa begitu gamblang ada kemarahan “aku” yang lepas kendali dan harapan.  Kalimantan Selatan mengalami gangguan psikologi yang sangat berat, depresi berat, dan ketiadaan lagi harapan yang tersisa; korban perkosaan brutal dengan kegilaan yang frustasi pada kekerasan dan penguasaan libido tak terkendali.

Di satu sisi, MH masih meminta untuk merenungkan semua perbuatan yang berakibat pada “sesuatu yang tak terbayangkan” akan terjadi kemudian dari segala kegilaan dan kebrutalan tindakan sekarang pada alam Kalimantan Selatan. Renungankanlah! Adakah kesempatan untuk merenungkan tindakan yang dilakukan dengan kegilaan dan kebrutalan? Terpikirkah pemerkosa ketika sedang dalam aksinya! Coba bayangkan apa yang digambarkan MH bagaimana alam ini diperlakukan dalam bait pertama berikut:

Teruslah perkosa aku

senafsu-nafsu syahwat rakusmu

tebas dan cabik-cabik tubuhku

sebirahi-birahi erangmu

cakar dan bongkar isi perutku

sepuas-puas raungmu.

Continue reading

KORUPSI DI MATA PUISI

Oleh: HE. Benyamine

 

Gagasan menghimpun puisi penyair Indonesia dalam sebuah buku Puisi Menolak Korupsi (2013) oleh Sosiawan Leak merupakan bentuk gerakan moral melalui puisi untuk menyatakan penolakan terhadap tindak korupsi di negeri ini yang semakin mencekik leher bangsa Indonesia. Beberapa puisi di dalamnya bernada satiris, seperti puisi Aloysius Slamet Widodo yang berjudul Namaku Korupsi,  yang menyatakan korupsi sebagai “karena aku budaya”.   Sebagai gerakan kultural, gerakan Puisi Menolak Korupsi merupakan wujud kegetiran dan respon kritis penyair atas keadaan masyarakat-bangsa Indonesia yang sedang sakit; bahkan sekarat. Ungkapan “karena aku budaya” dari korupsi menghunuskan kegetiran mengenai hancurnya sebuah kebudayaan yang bernama bangsa Indonesia. Hal ini diungkapkan Sumasno Hadi ketika menyampaikan pengantar bahan diskusi dengan judul Anti Korupsi di Mata Puisi: Panglima Lumpuh, Prajurit Mengeluh, Penyair Bergermuruh dalam Diskusi Sastra Malam Sabtu, 7 Juni 2013, dengan topik Korupsi di Mata Puisi di Aula Perpustakaan dan Arsip Daerah (Pustarda) Kota Banjarbaru.

Continue reading

SAWIT DI LAHAN RAWA: PERLEMAH ROAD MAPS PEMBANGUNAN HST

Oleh: HE. Benyamine

Ekspos Kajian Potensi Lahan Rawa untuk Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Kabupaten HST (24/10/12), merupakan awal tindakan seolah mengilmiahkan pembukaan perkebunan kelapa sawit skala besar. Kajian akan dilakukan di tiga kecamatan yang ada di HST, yang diketahui memiliki potensi lahan rawa, seperti kecamatan Labuan Amas Utara (LAU), kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS), dan kecamatan Pandawan (Media Kalimantan, 25 Oktober 2012: A7).  Lahan rawa (lahan basah) dengan keanekaragaman hayati tinggi, yang juga sangat rentan terhadap gangguan lingkungan, apalagi untuk perkebunan besar kelapa sawit yang akan melakukan perubahan topografi lingkungan menjadi seragam, tentu tidak ada alasan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan selain mengarahkan pada kerusakan dan tragedi lingkungan HST.

Continue reading

SUNGAI KEMUNING DAN PASCA KEBAKARAN (Proyek Siring Langgar UU dan PP)

Proyek siring sungai Kemuning yang sekarang sedang berjalan adalah bagian dari kegiatan yang merusak sungai dan jelas bertentangan dengan UU No.7 Tahun tentang Sumber Daya Air dan PP No.38 Tahun 2011 tentang Sungai. Proyek siring Kemuning membuat siring pada batas palung sungai, dan secara langsung menghilangkan sempedan sungai, danau paparan banjir, dataran paparan banjir, dan memunculkan daya rusak air.

Kebakaran di Jl. Kemuning Ujung, sekitar bantaran sungai Kemuning, merupakan kejadian yang menyesakkan dada dan sungguh mengharukan, apalagi terjadi menjelang lebaran Idul Fitri 1433 H. Korban kebakaran yang berjumlah 30 KK kehilangan tempat berteduh dan harta benda. Beberapa hari terakhir, DPRD Kota Banjarbaru mulai membahas bagaimana pasca kebakaran, dan berniat meninjau lokasi kebakaran untuk lebih menambah bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan dan konsep yang sesuai dan diterima korban kebakaran yang sekaligus menjadi titik awal penataan kawasan sungai sesuai peraturan dan perundangan.

Image

(Foto: Ananda Perdana Anwarhttp://hirangputihhabang.wordpress.com/2012/01/22/siring-sungai-kemuning/) Foto di atas memperlihatkan, batas siring pada palung sungai, sehingga dataran paparan banjir di bawah rumah warga dihilangkan.

Continue reading

SUMBANGAN PIHAK KETIGA MENTALITAS PENGEMIS

Oleh: HE. Benyamine

Bagai kasalukutan, kepala daerah di Kalimantan Selatan yang di wilayahnya beroperasi pertambangan, karena terbitnya Surat Edaran Dirjen Minerba Kementerian ESDM tentang pelarangan penerimaan sumbangan pihak ketiga (SPK) dan penerbit SKAB sektor pertambangan. Kepala daerah yang seperti ini patut dipertanyakan bagaimana mereka memimpin dan menggerakkan daerahnya untuk kemajuan dan pencapaian kesejahteraan, bagaimana tidak, yang mereka ributkan ternyata yang berhubungan dengan sumbangan.

Continue reading

RUMAH DEBU

Aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin ….”* Entah angin mana yang membawaku ke tempat di mana angin sudah dikuasai dan dikendalikan. Aku tiba-tiba saja berdiri di depan rak-rak buku besar-besar, tapi hanya ada satu buku, benar sebenar-benarnya hanya sebuah buku terpampang di situ. Aku tertegun dan tidak sempat berpikir apalagi bertanya, sekedipan mata buku itu sudah berada di tangan, dan aku begitu saja meninggalkan tampat itu yang nampak penuh debu setelah buku itu berpindah ke tanganku.

Continue reading