PUISI (15): GEMPA SUMATERA BARAT

:Marshmallow
(30 September 2009)
Oleh: HE. Benyamine

Baru saja mengenang kisah mudik
karena Emak dirindu di Bukittinggi
juga tempat lahir hingga besar
begitu banyak tegur sapa hiasi langit cerah
meluncur dari hati betapa ringan melapangkan
Ada rasa malu saat melupakan
wajah-wajah terlukis masa
yang lekat dan terasa dekat
bertemu Etek, Pak Etek, Mamak, Mak Tuo
memanggil-manggil Uni Uda berganti-ganti
Gempa 7,6 skala Richter menjalari tanah Sumatera [...]

PUISI (14): HUTAN RUMAH BERSAMA

Masih terbayang hijau terhampar teduh menyapa
luasan yang berdesir mencumbu angin segala penjuru
menyentuh imajinasi kehidupan bermakna
rumah bersama terbentang luas menyatu

PUISI (13): MENCARI AKU

Aku adalah apa yang kucari
meski tak tahu apa yang benar-benar aku
aku berpikir maka aku berjarak
merasa bahwa aku ada di ujung pandang
mencari yang aku tahu pernah ada
mengingat yang aku tahu belum ada
membayangkan yang aku tahu bukan aku

PUISI (12): Perjalanan (3)

Sejauh jarak takluk terinjak
Aku tetap berdiri antara langit dan tanah
Memandang dalam batas yang tampak
Harapkan gapai nikmat dalam berkah
Masih ada tergores tamak

PUISI (11)

Perjalanan (1)
Menghilang bersama lamunan indah
tak terasa kaki masih di tanah
sudah berapa jejak terhapus
tak terasa waktu berlalu terhembus nafas
Tenggelam di telaga hidup
tak terasa selalu kembali terlelap
sudah samar hari-hari berlalu
tak terasa rutinitas wujud diri membeku
Mengulangi langkah penuh harap
melintas menyeret tawa tangis
hanya khayal memberi jeda
terlelapĀ  perjalanan seakan semua terhenti
Banjarbaru, 15 Mei 2009

Perjalanan (2)
Berapa kata dibutuhkan
untuk menyembunyikan luka
mengabarkan kesembuhan
tersamar [...]

PUISI (10)

KEKASIH (1)

Cinta ini milik sendiri
memberi penuh arti
menerima tak penuhi diri
hanya tak sanggup berdiri sendiri

O kekasih jiwa
janji membangun rumah cinta
yang melindungi rindu terus berwarna
dalam kasih sayang saling mengada

Banjarbaru, 1 April 2009

PUISI (9): SITU GINTUNG

SITU GINTUNG

Situ Gintung yang renta terlantar memikul beban
tak ada yang dengar rintihan keuzuran
yang diam himpun nafas bertahan
saat waktunya tiba tak satupun yang bisa hentikan
hanya gemuruh antar pesan
kematian telah sampai menjemput badan

Situ Gintung telah berpulang
menjemput maut dengan meradang
hembusan terakhir tiba-tiba datang
terlepas sudah tanggul penghalang
sayup-sayup terdengar suara-suara yang malang
menggores batin tertinggal yang mengenang

Situ [...]

PUISI (8)

ANUGERAH WARNA
Warna ungkap penampakan berbeda
hanya melukis saat cahaya ada
selebihnya kita adalah buta
hanya keyakinan menuntun jiwa
menuju adanya yang Maha Terang
Dalam gelap hilang yang berbeda
dimana kita hanya satu yang terikat
sama dalam harapan
rasakan anugerah perbedaan
membiarkan yang lain memilih warnanya
Banjarbaru, 9 Maret 2009
DALAM PERBEDAAN TERANG KEBENARAN
Ada yang melempar bara kemalangan
maka jadilah calon yang membara dalam angan-angan
menari melayang-layang bersuara ratapan [...]

PUISI (7)

TERANG DALAM DIRI
Manakala langit menarik malam
Yang jauh nampak melambai
Tak dipisahkan pekatnya hitam
Menyapa tak sendiri meski gelap tak bertepi
Betapapun kelam dunia ada terang dalam diri
Lentera hati redup bila lalai tersentuh
Tak guna menghujat diri bila buram menyelimuti hati
Kelamlah dada hasut hidup menyerah resah
Banjarbaru, 1 Februari 2009

LUBANG TAMBANG

Lubang-lubang raksasa menantang langit
Sembunyikan duka samarkan rasa takut
Hilang sudah keragaman dan [...]

PUISI (6)

SUNGAI MINTA MATI
Aliran tersumbat berdarah darah
Mengalir terseret aniaya
Hilir meranggas hulu luka bernanah
Menjalar tanpa arah menarik yang tak berdaya
Oh! Mimpi buruk sungai sekarat hampir tenggelam
Bangunlah! Sungai berdarah-darah memohon mati
Tak tahan mendendam memikul kelam
Minta mati! Hingga terkubur tak berarti
Banjarbaru, 10 januari 2009
TONG SAMPAH
Sungguh serakah lagi angkuh
Sebar puntung menimbun rumah
Sudah lupa tempat buang hajat
Pamerkan yang terbuang terkapar [...]