PUISI (48): KEKASIH (5)

Di sana, bayanganmu menggenggam dunia Tiada jarak yang menyatukan titik mata Tiada ruang yang menyatukan jiwa Hanya kerinduan, kau selalu ada   O kekasih Ruang dan waktu melepaskan kau Hingga hatiku bebas bersamamu   Banjarbaru, 27 Januari 2012

PUISI (47): KAU KEMBALI

Kau memamah bulan lalu menyeretnya ke arah kegelapan Kegelapan berlari menuju cahaya yang berjalan dari arah berlawanan Berlawanan segala yang nampak saling silang menyulam cakrawala Cakrawala mengembang mengkerut merasuki  pikiran dan hati Hati meletakkan cermin terbolak balik menahan kehendak Kehendak membujuk lahap segala materi Materi tersisa tubuh sendiri Sendiri menyantap diri melumatnya tak habis-habis Habis [...]

PUISI (46): TABIR MANA YANG KAU SINGKAP

Ketika malam memilih sendiri tabir mana yang kau singkap sedang mentari teramat setia menanti sembunyi hingga gelap menemukannya.   Langit terbelah bagai lintasan Musa Lalu cahaya menembus jiwa-jiwa yang tenang sedang kau sibuk mencari hatimu terpana menggenggam suluh yang padam.   Banjarbaru, 18 Agustus 2011  

PUISI (45): WAKTU MENJELMA MANTRA

Baru saja mengejar waktu memegang sepenuh daya bagai menggenggam air siang malam lari melewati pergantian mimpi hanya perumpamaan seribu bulan yang terhenti berdegup saat berpaling, wajah waktu menghantui

PISTOL AIR

Aku sekilas melirik. Aku merasa ada yang aneh, seakan mengusik rasa ingin tahuku, dan aku tidak lagi melirik, malah langsung menatap ke arah rak-rak buku yang tadi sudah terlewatkan. Benar! Pistol itu mengarah kepadaku. Aku yakin jika tidak mungkin pistol itu meletus saat ada di belakangku. Apakah aku linglung*), ada yang menodongkan pistol dan aku [...]

PUISI (44): KEKASIH HATI

Menatap wajahmu, sekilas cermin hatiku bening Hilang kata pemuja dalam dadaku, kau tersenyum   Menatap kembali senyummu, jantungku tak berdetak Hilang panas dalam tubuhku, wajahmu berhias sepasang telaga   Menatap binar sepasang telagamu, jiwaku terbang bebas Hilang segala rasa duniaku, kau menantap sedekat batinku   Kau tersenyum, tiada gemuruh purba memacu gumpalan darah Aku sadar [...]

PUISI (43): TERIAKLAH SEKUAT YANG KAU SIMPAN

Teriaklah sekuat yang kau simpan, mungkin berasal dari darah moyang yang hingga mengaliri kau mengapa tetap bisu bersama petasan yang melepaskan kungkungan geramkah kau dengan merobek telinga malam, dan menaburkan percikan warna api di muka malam sedang malam tetap menjamu bulan bintang.   Teriaklah sekuat yang kau simpan, mungkin dari gumpalan-gumpalan nafsu yang tertahan    [...]

PUISI (42): CAHAYA KERINDUAN

Seberapa dekat kau lepaskan hatimu segala arah yang teraih, samar yang merekah.   Mengelana ikuti jejak, terasa tapak watak bergerak  berulang memungut waktu tumpah kembali tak bertanda    lalu nikmat hilang di persimpangan.   Seberapa dekat kau lepaskan hatimu hingga genggaman tersisa hanya cahaya kerinduan.   Banjarbaru, 11 Agustus 2011

PUISI (41): SARANG SERIGALA

gerombolan pembawa luka menari-nari nikmati genderang busung lapar gencar menyebar kilauan manipulasi toping ah, semakin  saru serigala   di koran serigala hiasi halaman utama berganti-ganti khotbah di televisi tiada jaringan tanpa lolong yang kosong melolong-lolong, rampok berkeliaran negara sarang serigala kala pemimpin picik licik ketika bangun melolong lalu mencolong   gerombolan penghisap darah hidup mewah [...]

PUISI (40): MENGGAPAIMU

Menyusuri jejakmu setelah kau tersenyum diam bagai rembulan menggores malam secawan air melepasku tercekak rindu   Menggapaimu dalam aliran darahku bergemuruh luruh memancar hangat mengiba seketika bergetar di bening air mata menyusuri jejakmu menuju jantungku   Banjarbaru, 24 Mei 2011

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.